Selamat Datang di Dunia olient_online

Selamat Datang di Dunia Mini olient_online

Rabu, 15 April 2015

Studi Kitab al-Sunan al-Kubro: Cara al-Baihaqi Membela Fikih Syafi'i




Nama kitab      : al-Sunan al-Kubro
Penulis             : Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi
Ukuran           : 17,5 x 24,5 cm
Jumlah Jilid     : 11


  1. Pengantar
Hadis ialah perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat yang disandarkan kepada Rasulullah Saw.[1] Ia menjadi sumber kedua dalam penetapan hukum-hukum Islam setelah al-Quran. Hadis yang juga memiliki fungsi sebagai penjelas al-Quran[2] itu, sampai kepada kita melalui dinamika panjang sejarah yang tidak dapat kita kesampingkan. Rekam jejak Rasul tersebut kini dapat kita nikmati sajiannya dalam berlembar-lembar jilid dengan kemasan yang berbeda-beda.
Jika kita tengok ke belakang, khususnya di era dimana hadis itu lahir, maka dapat kita lihat dokumen-dokumen hadis yang dijaga apik oleh para pecinta Nabi. Hadis yang datang bersamaan dengan masa-masa turunnya al-Quran itu mula-mula hanya menempel dibalik ingatan para sahabat. Ia belum dikenal dalam dunia literasi ketika itu. Berbeda dengan al-Quran yang sedari awal telah ditulis di pelepah kurma, kulit-kulit unta, dan media lainnya. Tentu bukan tanpa alasan. Sebab, Nabi Saw mengkhawatirkan jika hadis ditulis maka akan tercampur dengan ayat-ayat al-Quran. Baru di era akhir kenabian, setelah para sahabat dapat memilih dan membedakan mana yang hadis dan mana al-Quran, mereka menulis hadis-hadis yang mereka ketahui.[3]
Di tangan para sahabat pasca wafatnya Nabi Saw, hadis belum terkodifikasikan dalam arti sebagai sebuah buku kumpulan. Ketika itu, hadis terpisah-pisah dalam lembar-lembar para sahabat yang berbeda. Geliat untuk membukukannya belumlah kentara. Sempat ada inisiatif untuk mengkodifikasikannya di masa kepemimpinan Umar bin al-Khattab Ra, namun upaya itu ditangguhkan. Keadaan itu berlangsung hingga penghujung akhir abad pertama.[4]
Di abad kedua, dimana masa kekhalifahan dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz, kodifikasi hadis dimulai. Ini berawal dari instruksi khalifah yang resah atas banyaknya para penghafal hadis yang wafat. Sementara geliat ijtihad di kalangan para ulama menggelora. Maka dalam keadaan tersebut upaya pembukuan hadis pun digalakkan. Bersamaan dengan karya-karya ulama yang konsen di sisi per-sanad-an. Di abad ini setidaknya terdapat lima karya populer dengan corak yang berbeda-beda.[5] Sebut saja al-Muwattho’, Musnad al-Syafi’i, Mushonnaf Abd al-Razzaq, Mushonnaf Syu’bah bin Hajjaj, dan Mushonnaf Sufyan bin Uyainah.[6]
Memasuki abad ketiga gerakan pembukuan hadis semakin masif dengan munculnya kitab-kitab seperti Shohih Bukhori, Shohih Muslim, dan kitab-kitab Sunan, Musnad, Mushonnaf lainnya. Memasuki abad keempat karya-karya hadis semakin beragam. Ulama-ulama populer seperti al-Thabrani, al-Daruquthni, Ibnu Hibban, Ibnu Huzaimah, hadir dengan karya-karyanya.[7]
Di abad kelima pembukuan hadis semakin menjamur. Sebagaimana metode penulisan yang juga beragam. Salah satu ulama besar yang menelurkan buah penanya pada abad ini ialah Imam al-Baihaqi melalui kitabnya, al-Sunan al-Kubro. Dalam istilah perhadisan, kitab tersebut masuk dalam kategori Sunan. Yaitu kitab yang tersusun berdasarkan bab-bab fikih. Jenis kitab yang satu ini memuat hadis-hadis yang marfu’ (disandarkan kepada Nabi Saw), dan tidak satu pun terdapat di sana hadis yang mauquf (disandarkan kepada Sahabat) atau maqthu’ (disandarkan kepada Tabi’in). Sebab hadis Mauquf dan Maqthu’ bukan termasuk sunnah.[8]
Merunut ke generasi pendahulu, kitab Sunan sebenarnya telah ditulis banyak ulama sebelum al-Baihaqi. Lalu, apa istemewanya kitab al-Sunan al-Kubro jika melihat realitanya telah banyak ulama-ulama pendahulu yang menulisnya? Terlebih hadis yang dicantumkan kebanyakan sama. Berikut akan kami ulas tentang kitab al-Sunan al-Kubro karya al-Baihaqi.


  1. Melawan Fitnah Penguasa
Menelusuri latar belakang yang menjadi alasan mengapa Imam al-Baihaqi menulis al-Sunan al-Kubro relatif sulit. Tentu selain karena penulisnya sendiri tidak mencantumkannya secara eksplisit dalam kitab tersebut,[9] juga karena keterbatasan referensi yang kami dapatkan. Dari beberapa cetakan penerbit yang kami baca, tidak satu pun pengantar baik dari editor maupun penerbit yang menyebutkannya. Hal yang sama juga kami temui ketika membuka kitab-kitab yang secara khusus mengomentari al-Sunan al-Kubro.
Sebuah karya seringkali tidak jauh dari apa yang dirasakan penulisnya. Tidak sedikit penulis yang menggoreskan tintanya berangkat dari kenyataan yang ia alami. Curahan hati, kegundahan, kritikan, atau penolakan adalah bagian dari motif seseorang ketika memulai tulisannya. Kami pun berasumsi demikian dengan al-Sunan al-Kubro. Setelah mengamati substansi dan gaya penulisan kitab tersebut, kami mencoba memasuki sejarah hidup dan menengok kondisi sosio-historis dimana al-Baihaqi hidup.
Imam al-Baihaqi tumbuh pada masa kegalauan politik Daulah Abbasiyyah. Pemerintah pusat di Baghdad ketika itu tidak lagi diakui oleh karena suhu politik yang memanas dan merata di berbagai daerah. Di tengah kedigdayaan khalifah yang tumbang itu satu demi satu wilayah kekuasaannya memisahkan diri dan mendirikan Negara-negara kecil. Sementara stabilitas kedaulatan Negara semakin tidak menentu dan rakyat hidup dalam ketakutan yang berkepanjangan.[10]
Ketika itu kaum muslim terpecah belah berdasarkan politik, fikih dan pemikiran. Antara kelompok satu dengan kelompok yang lain berusaha saling menyalahkan dan menjatuhkan. Perseteruan antara Syi’ah dan Ahlussunnah mengemuka, sebagaimana Mu’tazilah pun berdebat dengan mereka. Persaudaraan, persatuan, dan perasaan saling mengasihi tertutupi oleh ego dan perbedaan yang mengarah kepada perang saudara. Ulama sebagai pengayom umat tidak lagi menunjukkan jiwa rahmatnya dan justru mereka ikut menabuh genderang perang saudara. Kondisi yang demikian ini mempermudah dan dimanfaatkan oleh musuh Islam untuk mencerai-beraikan mereka.[11]
Sementara para Khalifah berdiri berdasarkan kelompok yang mereka sukai. Sebut saja ketika yang bertahta ialah Khalifah yang pro Ahlussunnah, maka ia kemudian hanya mengakui kelompok tersebut dan memaksakan kelompok lain untuk mengikutinya. Maka jangan berharap kelompok lain akan didengarkan, dan justru akan diperangi jika memberontak. Sebaliknya, ketika sang khalifah wafat dan digantikan Dinasti yang pro Syi’ah-Mu’tazilah, maka habis sudah kedigdayaan Ahlussunnah.[12]
Tahun 445 H, di bawah Dinasti Seljuk yang dipimpin Tugril Bik fitnah itu benar-benar terjadi. Tugril Bik dikenal sebagai penganut Hanafi, yang notabenenya ramah terhadap Mu’tazilah. Di bawahnya adalah perdana menteri al-Kunduri yang konon juga seorang Mu’tazilian-Rofidhian. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penganut mu’tazilah dengan menjadi parasit di sekeliling istana. Dalam diri sang perdana menteri terkumpul ideologi yang sesat. Ia me-makhluk-kan af’al Allah Swt, mencela Abu Bakar dan Umar Ra serta para Sahabat, men-tasybih-kan Allah Swt dengan makhluk, dan sangkaan sesat lainnya.[13]
Di sisi lain, terdapat para qodarian dan batinian yang bermuka hanafian di sekitaran perdana menteri. Mereka menghasutnya agar mengeluarkan surat perintah pengutukan kepada kelompok yang mereka anggap sebagai mubtadi’ah, dalam hal ini Asy’ariyah-Syafi’iyah. Dan benar saja. Surat perintah tersebut menjadi legitimasi bagi al-Kunduri dan para penentang Asy’ariyyan untuk mengutuk Abu Hasan al-Asy’ari di mimbar-mimbar umum, serta melancarkan hinaan kepada para Syafi’iyyan, menahan, melarang ajaran, mencopot mereka dari kursi-kursi strategis dan digantikan oleh para Hanafiyyan. Mereka memalsukan perkataan al-Asy’ari dan menuduhnya sesat.[14]
Para penganut Asy’ariyyah-Syafi’iyyah pun tidak tinggal diam. Mereka menolak keras tuduhan-tuduhan itu. Ulama sekaliber Abu Ishaq al-Syirazi, al-Qadhi al-Damighani, al-Baihaqi, dan beberapa ulama lainnya memprotes keras melalui sebuah surat yang mereka layangkan kepada perdana menteri agar memadamkan api fitnah. Hanya saja surat tersebut tidak direspon sama sekali. Kondisi ini menjadikan mereka semakin terpojok, sehingga pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kota. Sebagian menuju Iraq, sebagian lagi berangkat ke Hijaz. Adapun al-Baihaqi, al-Qusyairi, dan al-Juwaini memutuskan untuk berangkat haji ke Makkah.[15]
Pada periode yang demikian inilah al-Baihaqi hidup. Dalam masa krisis, Imam Baihaqi konsisten sebagai pribadi yang berkomitmen terhadap madzhab yang diyakininya. Dari situ kemudian ia menggoreskan tintanya dalam banyak cabang ilmu; hadis, fikih, ushuluddin, dan zuhud. Salah satu karya yang ia telurkan di masa itu adalah al-Sunan al-Kubro. Sebuah proyek besar yang ia dedikasikan untuk membela madzhab Syafi’i yang didiskriminasi kala itu. Tentu bukan hanya motif itu semata. Sebab, jika kita simak perkataan salah satu ulama bahwa al-Sunan al-Kubro merupakan kitab pertama yang mengumpulkan nash-nash hadis fikih Syafi’I, maka dapat dikatakan bahwa itu juga menjadi salah satu motif dari penulisan kitab tersebut. Imam al-Baihaqi sangat serius dalam menggarap proyek monumental tersebut, sehingga secara khusus ia pun membuat pengantar dalam bentuk karangan tersendiri yang ia beri nama al-Madkhol ila al-Sunan al-Kubro.
Pertanyaannya kemudian, kenapa harus harus al-Sunan al-Kubro? Sebuah kitab bergenre hadis-fikih. Jawaban sederhana yang dapat diajukan adalah karena al-Baihaqi memiliki otoritas di sana. Kepakarannya dalam dunia hadis menjadi sebilah pedang untuk melawan orang-orang yang menebar fitnah dan menuduh mubtadi’ah. Pun karena yang ia bela ialah fikih Syafi’i, madzhab yang ia anut. Maka kemudian dua bidang itu ia padukan melalui al-Sunan.
Kecenderungan al-Baihaqi kepada madzhab Syafi’i tidak datang begitu saja, melainkan setelah melalui pendalaman yang matang, perbandingan dan pengujian yang selektif. Sebelum itu beliau merupakan tokoh moderat yang berdiri untuk membela seluruh madzhab dan menyuarakan kebenaran atas semua madzhab. Semua dibangun di atas pondasi al-Quran dan Hadis. Hanya saja setelah sekian lama menyelami, ia berkesimpulan bahwa Syafi’i ialah madzhab yang paling dekat dengan sunnah Nabi, paling banyak mengikuti al-Quran dan Hadis, paling kuat argumennya, paling benar, dan paling gamblang petunjuknya dibanding madzhab lain. Dalil dan pemahaman hadis yang dihadirkan al-Syafi’i ia rasa cocok dan tidak ada pertentangan. Maka wajar ketika madzhab tersebut dicaci dan difitnah sekian rupa ia kemudian berdiri di garda terdepan untuk membelanya.[16]
Melalui Al-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi seolah hendak berkata kepada para penentang Syafi’i, “Ini lho fikih Syafii, ini lho hadis-hadis yang dijadikan landasan hukum olehnya! Tidak seperti yang kalian tuduhkan.”


  1. Profil Singkat al-Baihaqi
Al-Baihaqi bernama lengkap Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali bin Musa al-Baihaqi al-Khosrujardi. Baihaq adalah sebuah distrik di wilayah Naisabur yang luas lengkap dengan penghuni yang padat. Dari distrik tersebut lahir tokoh-tokoh besar, ulama, fuqoha’, dan sastrawan kenamaan yang tak terhitung jumlahnya. Mayoritas penduduknya menganut madzhab Syi’ah Rofidhoh yang ekstrim.[17]
Imam al-Baihaqi lahir tahun 384 H dan wafat pada tahun 458 H. Al-Baihaqi terkenal sebagai pakar hadis yang fakih, hafidz, dan zuhud. Seluruh hidupnya didedikasikan untuk khidmah pada ilmu. Hari-hari beliau dihabiskan untuk penelitian, belajar, menulis kitab, dan mengajar. Ia pernah singgah ke banyak wilayah dalam rangka menuntut ilmu. Diantara wilayah-wilayah tersebut ialah Iraq, Hijaz, Nauqon, Isfiroin, Thus, al-Mahrojan, Esdabad, Hamadan, Damighon, Ashbihan, Royy, Tobron, Naisabur, Roudibatar, Baghdad, Kufah, Makkah, dan wilayah lainnya.[18]
Disiplin ilmu yang pertama kali didalami al-Baihaqi adalah Hadis. Ia sangat tertarik dan menyukai cabang ilmu tersebut, hingga ketika umurnya menginjak 15 tahun ia telah berguru kepada ulama-ulama kenamaan. Dalam salah satu kitabnya, Ma’rifat al-Sunan wa al-Atsar ia berkata, “Sejak saya memutuskan memulai pengembaraan mencari ilmu, saya menulis hadis-hadis Nabi Saw dan mengumpulkan atsar-atsar para sahabat, dan sima’ah (mendengarkan)nya dari orang-orang yang memilikinya. Saya kemudian tahu kedaan-keadaan para rawi dan berijtihad untuk membedakan antara hadis yang sahih dan dhaif, marfu’ dan mauquf, maushul dan mursal.”[19]
Semasa hidupnya, Imam al-Baihaqi setidaknya berguru kepada 41 ulama populer.[20] Sebagian besar gurunya bermadzhab Syafi’i. Diantara mereka adalah:
1.      Al-Hakim al-Naisaburi (w. 405 H), penyusun kitab al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain.
2.      Ali bin Ahmad bin Abdan al-Syirazy (w. 415 H)
3.      Abu Ali al-Roudzibari w. 403 H)
4.      Ali bin Muhammad bin Abdillah al-Baghdadi (w. 415 H)
5.      Abu al-Hasan Muhammad ibn al-Husain al-‘Alawi al-Husna al-Naisaburi (w. 401 H)
6.      Abu ‘Abdurrahman al-Sullami al-Naisaburi (w. 412 H), penyusun kitab Thabaqat al-Shufiyyah.
7.      Abu Ishaq al-Thusi Ibrahim ibn Muhammad ibn Ibrahim (w. 411 H)
8.      Abdullah ibn Yusuf ibn Ahmad al-Ashfahani, seorang tokoh tasawwuf dan ahli Hadits yang tsiqah. Al-Baihaqi banyak meriwayatkan Hadits darinya.
9.      Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Balawaih al-Naisaburi (w. 410 H)
10.  Dan guru-gurunya yang lain.
Ilmu-ilmu yang diperolehnya dari ulama-ulama di atas kemudian ia tularkan kepada murid-muridnya.[21] Diantara mereka adalah:
1.      Putranya, Abu Ali Ismail Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi yang terkenal sebagai Syaikh al-Qudhot
2.      Cucunya, Abu al-Hasan Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi.
3.      Zahir bin Thahir bin Muhammad
4.      Abu Abdillah al-Farowi, Muhammad bin al-Fadhl.
5.      Abu Muhammad al-Khowari, Abdul Jabbar bin Muhammad bin Ahmad al-Baihaqi
6.      Dan murid-murid beliau yang lain.
Sementara itu karya-karya al-Baihaqi pun tak terhingga jumlahnya. Ia juga tidak terpaku pada satu disiplin ilmu, melainkan multidisiplin ilmu telah ia telurkan dari buah penanya. Kendati demikian ia lebih populer sebagai pakar hadis. Ini terbukti dengan kitab-kitab hadisnya yang cukup banyak. Diantara karya-karya beliau ialah Al-Adab, Itsbat al-Ru’yah, Itsbat Adzab al-Qobr, Ahkam al-Quran, Al-Arba’un al-Kubro, Al-Asma’ wa al-Shifat, Bayanu Khata’i man Akhtho’a ala al-Syafi’I, al-Jami’ al-Mushonnaf fi Syu’ab al-Iman, Dalail al-Nubuwwah, Al-Sunan al-Shughro, Al-Sunan al-Kubro, dan kitab-kitab beliau yang lainnya.[22]
Karena kedalaman ilmu dan kepakarannya di banyak cabang keilmuan, serta karyanya yang banyak, ia mendapatkan banyak komentar positif dari para ulama. Al-Dzahabi misalnya, ia berkata, “Kalau saja al-Baihaqi mau membuat madzhab baru dan berijtihad tentu ia mampu karena keluasan ilmu dan pengetahuannya tentang ikhtilaf.”[23]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “al-Baihaqi merupakan orang yang paling tahu tentang madzhab Syafi’i dari segi perhadisan, dan juga pembela al-Syafi’i.”[24]
Sebagaimana dituturkan para sejarawan, Imam al-Baihaqi wafat pada bulan Jumadil Awal tahun 458 H, dan dikebumikan di Baihaq, tempat tinggalnya.[25]

  1. Metodologi Penulisan; Adopsi Metodologi Pendahulu
Al-Sunan al-Kubro memuat 21.812 hadis.[26] Sebagaimana para penulis Ahadits al-Ahkam, Imam al-Baihaqi menyusun kitab al-Sunan al-Kubro berdasarkan klasifikasi umum pembahasan kitab fikih. Ia mengadopsi tata urutan al-Muzani dalam Mukhtashor-nya. Mukhtashor al-Muzani adalah kitab fikih Syafiiyyah ringkas yang sangat populer di kalangan penganut madzhab Syafii. Ia menjadi rujukan tata urutan ulama setelahnya. Sebut saja misalnya al-Mawardi dalam al-Hawi yang meniru tata urutan Mukhtashor al-Muzani.[27]
Sekalipun menyandang baju al-Sunan al-Kubro, sejatinya kitab tersebut tidak seperti kitab Sunan kebanyakan yang lebih bercorak kitab hadis konvensional. Di bawah kendali tangan dingin Al-Baihaqi, takaran hadis dan fikih dalam kitab tersebut berimbang. Hadis-hadis yang ia hadirkan berikut pemahannya menjadi rujukan penting hukum-hukum fikih.. Kitab ini memiliki posisi penting dalam jajaran fikih Syafii, dimana perdebatan dalil yang diambil Imam al-Syafii dapat kita temukan disana.[28]
Dari segi penulisan, Imam al-Baihaqi mengikuti jejak al-Bukhori dalam menyusun kitabnya, yakni dengan membagi beberapa pembahasan yang ia namai dengan kitab. Dari setiap kitab itu kemudian dibentangkan lagi menjadi beberapa bab dengan menitikberatkan pada beberapa permasalahan tertentu. Terkadang, ia menguraikan hadis-hadis dengan penjelasan hukum beserta istidlal-nya. Karenanya, al-Sunan al-Kubro juga pas bila disebut sebagai fikih muqoron, yang lebih mementingkan pada pengumpulan dalil-dalil dan men-tarjih-nya. Disinilah keistimewaan kitab tersebut. Jika dikalkulasi, jumlah bab yang ditawarkan al-Baihaqi lebih banyak daripada Imam al-Bukhori dalam Shohih-nya.[29]
Dari segi silsilah riwayat, sebagaimana dijelaskan Najm Khlaf, apa yang ditulis al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubro diperoleh melalui dua mekanisme periwayatan. Bagian pertama diperoleh langsung melalui talaqqi bi al-sima’ dengan gurunya. Adapun bagian kedua berupa mushonnaf (kumpulan hadis yang telah dibukukan), yang mana sebagian besar ia peroleh melalui tahammul bi al-sima’ dari penyusunnya atau orang yang pernah mendengar darinya, dan sebagian lagi melalui jalur ijazah, mukatabah, atau wijadah. Dari dua model itu terkumpul lebih dari 30.000 jalur sanad.[30]
Dari hasil temuan Najm Khalaf, setidaknya terdapat lebih dari 7000 hadis yang dinukil dari Shohih al-Bukhari-Muslim, 2000 hadis dari Sunan Abi Dawud, 1313 riwayat dari Musnad Ibn Wahb, 785 riwayat dari Sunan al-Daruquthni, 386 riwayat dari al-Muwattho’, 642 riwayat dari Sunan Ibn al-A’robi, 1407 riwayat dari Musnad al-Shaffar, 1704 riwayat dari Sunan al-Syafi’I dan karyanya yang lain, 348 riwayat dari al-Kamil li Ibn ‘Adiy, dan dari kitab-kitab yang lain. Angka-angka di atas merupakan bentuk jumlah minimum, dan masih membuka celah lebar angka tambahan.[31]
Jika kita amati lebih seksama, al-Baihaqi di beberapa pembahasan melakukan perdebatan panjang terkait sanad atau rawi hadis yang ia sebutkan.[32] Ia menuturkan hadis lengkap dengan sanadnya. Terkadang sanad tersebut ia cantumkan sebelum matan hadis sebagaimana dalam kitab-kitab hadis pada umumnya. Namun, juga tidak jarang ia menyebut sanad setelah matan hadis. Dalam satu hadis misalnya, terkadang terdapat banyak jalur sanad yang sebagian ia sebut di muka, dan sebagian lain ia letakkan di akhir setelah matan. Jika terdapat hadis yang kontradiktif ia akan men-tarjih-nya.[33]
Dalam menghukumi seorang rawi, al-Baihaqi sangat hati-hati. Ia tidak serta merta menerima pendapat ulama yang menghukumi ke-tsiqoh-an rawi tertentu sampai ia mengkajinya secara mendalam, sebagaimana ia tidak mudah menganggap dhaif rawi yang banyak di-dhaif-kan oleh ulama.[34] Dalam hal ini al-Baihaqi memeringatkan, “Seorang rawi yang shoduq tidak tertutup kemungkinan ia khilaf ketika menuliskannya. Bisa saja ia salah mendengar riwayat atau hafalannya menjadi lemah. Ia meriwayatkan hadis syadz tanpa sengaja dan kemudian diketahui oleh orang lain yang ditakdirkan Allah untuk menjaga Sunnah Nabi Saw.”[35] Oleh karenanya, al-Baihaqi sangat hati-hati dan teliti dalam menulis kitabnya.
Terkadang, al-Baihaqi menuturkan riwayat-riwayat yang muttasil dan mursal. Dengan penuturan itu, ia hendak mengatakan bahwa riwayat yang di satu sisi mursal ternyata ada jalur lain yang muttasil. Dari sisi ini al-Baihaqi meniru jejak al-Nasa’i dalam Sunan-nya.[36]
Yang juga menjadi ciri khas dari kitab ini ialah cara al-Baihaqi menyebutkan matan-matan hadis. Jika hadis tersebut memuat informasi-informasi fikih yang penting maka ia menuturkan hadis-hadis yang sebenarnya pendek menjadi panjang.[37] Dalam kesempatan yang lain al-Baihaqi juga memperhatikan hadis-hadis yang Mujmal dan kemudian menjelaskannya.[38] Tidak hanya itu, ia juga menyinggung sisi historis hadis untuk menjelaskan nasakh dan asbabul wurud-nya.[39]
Dari corak metode penulisan sebagaimana kami paparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam bertutur, al-Baihaqi meniru Imam Malik dalam al-Muwattho’-nya. Dari segi sistematika bab ia meniru al-Bukhori. Meniru al-Tirmidzi dari segi menyeluruhnya kitab tersebut, yakni dengan tidak hanya mencantumkan hadis yang musnad, marfu’, dan shohih saja. Ia mengikuti jejak para imam hadis generasi awal yang lebih memperhatikan terkumpulnya seluruh riwayat tanpa dibatasi segi ke-shohih-an dan ke-marfu’-an hadis tersebut, karena khawatir ia masuk dalam kategori orang yang menyia-nyiakan hadis.[40]
Secara umum karya-karya dalam bidang hadis di era al-Baihaqi merupakan penyempurna dari karya-karya sebelumnya. Dimana generasi ulama mutaqoddimin lebih condong pada pengumpulan jalur-jalur hadis yang populer, sedangkan ulama muta’akhkhirin lebih memperhatikan pengumpulan jalur-jalur hadis yang asing (ghorib). Maka para ulama di era beliau datang sebagai kritikus tingkat pertama yang men-tarjih antara jalur mutaqoddimin dan muta’akhkhirin yang kontradiktif. Di era beliau fase periwayatan dianggap telah selesai dengan menyebarnya karya-karya para ulama hadis yang telah dibukukan. Karenanya, mereka lebih intens pada studi kritik.[41]
Sekalipun tergolong dalam kitab Sunan, namun al-Baihaqi tidak membatasi isi kitabnya pada pembahasan hukum-hukum fikih saja. Setidaknya ada beberapa bab yang membahas non-hukum fikih. Diantaranya pembahasan khushusiyyat an-Nabi[42], Silaturrahim[43], amar makruf nahi mungkar[44], dan hadis-hadis lain.
Dalam mencantumkan hadis, Imam al-Baihaqi memiliki kriteria sebagaimana para pengarang al-Sunan lainnya. Yakni dengan meniscayakan hadis shohih terlebih dahulu sebagai hadis yang dapat dijadikan landasan. Ia berkata, “Sudah menjadi kebiasaanku dalam karangan-karanganku di bidang Ushul dan Furu’ dengan berpegang pada hadis-hadis yang shohih, tidak dengan yang dhoif. Atau membedakan dan menjelaskan, mana yang shohih dan mana yang tidak shohih.”[45] Maka ketika mencantumkan hadis non-shohih ia memberi catatan dan peringatan atas hadis tersebut.

  1. Cara al-Baihaqi Membela Fikih Syafi’i
Telah dijelaskan di muka bahwa motivasi al-Baihaqi dalam menulis al-Sunan al-Kubro tidak dijelaskan secara tersurat baik dalam muqoddimah-nya ataupun dalam karya-karyanya yang lain. Kendati demikian, jika kita amati lebih mendalam melalui pendekatan sosio-historis dimana beliau hidup pada zaman itu, serta pembacaan karya-karyanya yang banyak, kesimpulan yang dapat kami tawarkan adalah bahwa beliau mengarang kitab-kitabnya untuk meng-counter opini publik yang telah dicuci oleh elit penguasa. Bahwa tuduhan-tuduhan miring terhadap kelompok Asy’ariyah-Syafi’iyah tidaklah benar. Salah satu cara yang digunakan al-Baihaqi adalah dengan mengarang al-Sunan al-Kubro, yang didedikasikan untuk membela fikih Syafi’i. Berikut akan kami paparkan penjelasannya.
  1. Metodologi Ala Fikih Syafi’i
Tidak diragukan lagi bahwa al-Sunan al-Kubro adalah kitab hadis yang ditulis berdasarkan bab-bab fikih. Berbicara tentang fikih maka tidak lepas dari pembahasan empat madzhab yang masyhur; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Masing-masing dari empat madzhab tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Mereka memiliki dasar-dasar cara penetapan hukum yang independen. Kekhasan mereka juga terlihat dari kitab-kitab yang dikarang oleh pengikut masing-masing.
Karya-karya besar fikih Syafi’i misalnya disusun berdasarkan pem-bab-an fikih yang dimulai dengan pembahasan Thaharah (bersuci). Thaharah menjadi syarat sah yang paling penting dalam rukun-rukun Islam. Maka syarat harus dikedepankan daripada masyruth (sesuatu yang disyaratkan). Ia tidak berlaku sebelum syaratnya dipenuhi. Berbeda dengan metodologi Imam Malik yang memulai kitab Muwattha’-nya dengan pembahasan waktu shalat. Ia lebih mengkhawatirkan terlewatnya waktu shalat dibanding mendahulukan bersuci bagi orang yang memiliki air. Karenanya ia berbeda dengan jumhur yang lebih mendahulukan bersuci.[46]
Al-Sunan al-Kubro ­merupakan salah satu kitab hadis yang bercorak fikih Syafi’i. Dari segi tata urutan bab, kitab ini mengadaptasi pola kitab Mukhtashor al-Muzani sebagaimana dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Al-Muzani (175-264 H) merupakan ulama Syafi’iyyah tingkatan pertama. Ia hidup semasa dengan Imam al-Syafi’i dan banyak mengambil ilmu darinya. Karyanya yang sangat popular adalah al-Mukhtashor.[47] Adapun al-Baihaqi merupakan ulama yang hidup di abad kelima. Ia masuk dalam jajaran ulama Syafi’iyyah tingkatan kesepuluh.[48]
Jika kita bandingkan antara Mukhtashor al-Muzani dan al-Sunan al-Kubro maka dapat kita lihat disana bahwa kedua kitab tersebut sama persis dari segi urutan pembahasan. Dimulai dari bab al-thaharoh, al-aniyah, al-siwak, al-wudhu’, dan seterusnya. Ini berbeda dengan kitab-kitab Sunan pra al-Baihaqi, seperti Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibn Majah, Sunan al-Daruquthni, dan lainnya. Sekalipun kitab-kitab tersebut dimulai dari pembahasan al-Thaharoh, namun pada pembahasan setelahnya berbeda dengan tata urutan al-Muzani. Dari sini dapat kita pahami bahwa al-Sunan al-Kubro memang benar-benar kitab yang bercorak Syafi’i, sekaligus pelopornya.
  1. Perdebatan Madzhab Syafi’i dan Hanafi
Lebih kongkrit lagi, apa yang menjadi asumsi kami bahwa al-Sunan al-Kubro diperuntukkan untuk membela madzhab Syafi’i tampak dalam beberapa perdebatan di kitab tersebut. Salah satu contoh terlihat pada bab "من قال لا يقرأ خلف الإمام على الإطلاق" (orang yang berkata, ‘Makmum tidak membaca al-Fatihah secara mutlak’).[49] Dari penamaan judul, secara tersirat al-Baihaqi hendak mengkritisi pendapat madzhab Hanafi tentang permasalahan membaca al-fatihah bagi makmum. Sebagaimana kita ketahui, pendapat jumhur mengatakan  bahwa membaca surat al-fatihah merupakan bagian dari rukun salat. Bahkan madzhab Syafi’i memutlakkan rukun tersebut. Sedangkan menurut madzhab Maliki, itu merupakan fardhu bagi selain makmum pada salat jahriyah (mengeraskan suara). Ini berbeda dengan madzhab Hanafi yang berpendapat bahwa makmum tidak membaca surat al-Fatihah secara mutlak.[50]
Dalam permasalahan ini kemudian al-Baihaqi mendebat pendapat madzhab Hanafi. Ia menghadirkan 17 hadis yang menjadi rujukan madzhab Hanafi. Kemudian ia mengkritisinya dari segi sanad, pemahaman, dan istidlalnya. Salah satu sanad yang menjadi sasaran kritik al-Baihaqi adalah hadis berikut:
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِىُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِى بُكَيْرٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ السَّلُولِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ صَالِحِ بْنِ حَىٍّ عَنْ جَابِرٍ وَلَيْثِ بْنِ أَبِى سُلَيْمٍ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ ». {ج} جَابِرٌ الْجُعْفِىُّ وَلَيْثُ بْنُ أَبِى سُلَيْمٍ لاَ يُحْتَجُّ بِهِمَا ، وَكُلُّ مَنْ تَابَعَهُمَا عَلَى ذَلِكَ أَضْعَفُ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا.[51]
Pada statemen di atas nampak jelas al-Baihaqi mengkritik sanad hadis yang dipakai madzhab Hanafi. Sekalipun mereka juga memakai hadis lain sebagai penguatnya. Namun penggunaan sanad di atas menjadi celah kelemahan.
Tidak berhenti di situ, al-Baihaqi pada hadis selanjutnya mengkritisi pemahaman hadis yang dipakai madzhab Hanafi:
وَالْمَحْفُوظُ عَنْ جَابِرٍ فِى هَذَا الْبَابِ مَا أَخْبَرَنَا أَبُو أَحْمَدَ الْمِهْرَجَانِىُّ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمُزَكِّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْعَبْدِىُّ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِى نُعَيْمٍ : وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ : مَنْ صَلَّى رَكْعَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَلَمْ يُصَلِّ إِلاَّ وَرَاءَ الإِمَامِ. هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ عَنْ جَابِرٍ مِنْ قَوْلِهِ غَيْرَ مَرْفُوعٍ. {ت} وَقَدْ رَفَعَهُ يَحْيَى بْنُ سَلاَمٍ وَغَيْرُهُ مِنَ الضُّعَفَاءِ عَنْ مَالِكٍ وَذَاكَ مِمَّا لاَ يَحِلُّ رِوَايَتُهُ عَلَى طَرِيقِ الاِحْتِجَاجِ بِهِ. {ق} وَقَدْ يُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ مَذْهَبُ جَابِرٍ فِى ذَلِكْ تَرْكَ الْقِرَاءَةِ خَلْفَ الإِمَامِ فِيمَا يُجْهَرُ فِيهِ بِالْقِرَاءَةِ دُونَ مَا لاَ يُجْهَرُ ، فَقَدْ رَوَى يَزِيدُ الْفَقِيرُ عَنْ جَابِرٍ قَالَ : كُنَّا نَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ خَلْفَ الإِمَامِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ ، وَفِى الأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. وَكَذَلِكَ يُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ مَذْهَبُ ابْنِ مَسْعُودٍ.[52]
Di situ al-Baihaqi memberikan catatan bahwa kemungkinan pendapat Jabir mengenai tidak perlunya membaca surat al-Fatihah bagi makmum itu hanya tertentu pada salat yang jahr (mengeraskan suar), bukan pada salat non-jahr. Hal ini dikuatkan dengan riwayat Jabir yang lain.

Pada hadis terakhir dari bab tersebut, al-Baihaqi menyebutkan salah satu riwayat yang dijadikan landasan madzhab Hanafi, kemudian mendebatnya dari segi sanad dan pemahaman. Beliau juga mengutip pendapat Imam al-Bukhori.
وَأَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ وَمُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى بْنِ الْفَضْلِ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا أَسِيدُ بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حَفْصٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُوسَى بْنِ سَعْدٍ عَنِ ابْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ : مَنْ قَرَأَ وَرَاءَ الإِمَامِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ. {ق} وَهَذَا إِنْ صَحَّ بِهَذَا اللَّفْظِ وَفِيهِ نَظَرٌ فَمَحْمُولٌ عَلَى الْجَهْرِ بِالْقِرَاءَةِ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. {ت} وَقَدْ خَالَفَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ الْعَدَنِىُّ فَرَوَاهُ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُوسَى بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ ، وَرَوَاهُ دَاوُدُ بْنُ قَيْسٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ عَنْ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُوسَى بْنِ سَعْدٍ عَنْ زَيْدٍ لَمْ يَذْكُرْ أَبَاهُ فِى إِسْنَادِهِ. قَالَ الْبُخَارِىُّ : لاَ يُعْرَفُ بِهَذَا الإِسْنَادِ سَمَاعُ بَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ وَلاَ يَصِحُّ مِثْلُهُ.[53]
Setelah menguraikan kelemahan-kelemahan dalil yang dijadikan landasan madzhab Hanafi, al-Baihaqi kemudian memaparkan dalam satu bab dalil-dalil hadis yang dijadikan landasan atas keharusan membaca surat al-Fatihah bagi makmum. Disinilah bentuk pembelaannya terhadap madzhab Syafi’i. Dalam bab tersebut beliau menyebutkan 45 hadis, baik itu hadis utama maupun mutabi’at dan syawahid, berikut ulasan komentar status dan istidlalnya.[54]
  1. Karya-karya Tentang Syafi’i
Karya al-Baihaqi tak terhitung jumlahnya. Dari sekian karya tersebut terdapat beberapa yang menunjukkan fanatisme beliau terhadap Madzhab al-Syafi’i. Ia meng-counter orang-orang yang menuduh dan menyalahkan Imam al-Syafi’i melalui beberapa karyanya. Berikut karya-karya beliau yang khusus berkaitan dengan madzhab al-Syafi’i atau pribadi Imam al-Syafi’i itu sendiri.
-          Bayanu Khatha’i man Akhtha’a ala al-Syafi’i
-          Takhrij Ahadits al-Umm
-          Radd al-Intiqod ala Lafdz al-Imam al-Syafi’i
-          Al-Mabsuth fi Nushush al-Syafi’i
-          Manaqib al-Imam al-Syafi’i
-          Dan kitab-kitab beliau yang lain.
Dari kitab-kitab tersebut dapat dilihat bahwa ideologi fikih Syafi’i memang telah mengakar kuat dalam diri al-Baihaqi. Dia benar-benar menjadi Syafi’iyyan sejati.
  1. Statemen Para Ulama
Tidak dipungkiri lagi bahwa al-Sunan al-Kubro menjadi karya monumental Imam al-Baihaqi. Dari karya tersebut terlihat jelas betapa mendalamnya keilmuan beliau. Dari karya itu tampaklah kepakarannya sebagai muhaddis yang fakih dan fakih yang muhaddis. Sekalipun kami belum bisa melacak seberapa kuat counter beliau melalui karyanya tersebut terhadap opini publik yang telah dicuci oleh penguasa, tetapi pengaruhnya di mata ulama terlihat jelas. Ini dibuktikan dengan statemen mereka yang banyak memuji buah penanya tersebut.
 Imam al-Haramain pernah berkata, “Tidak ada ulama madzhab Syafi’i melainkan Imam al-Syafi’i berjasa dan menjadi anugerah baginya. Kecuali al-Baihaqi, maka beliau sangat berjasa dan menjadi anugerah bagi Imam Syafi’i berkat karya-karyanya yang membela madzhabnya.”[55]
Imam al-Dzahabi dalam salah satu kitabnya yang khusus memberi catatan terhadap kitab al-Sunan al-Kubro berkata, “Imam al-Baihaqi adalah orang yang pertama kali mengumpulkan nash-nash madzhab Syafi’i. Bahkan ia juga orang terakhir yang mengumpulkannya. Apa yang ditulis oleh ulama-ulama pendahulu terdapat dalam karya al-Baihaqi. Dan saya tidak melihat orang setelahnya yang melakukan pengumpulan nash seperti beliau. Karena semua telah ditulisnya dan peluang bagi orang setelahnya telah tertutup.”[56]
Konon, sebagaimana dikisahkan Abu Ali bin al-Baihaqi, ada tiga orang yang pernah bermimpi melihat Imam Syafi’i sedang memegang kitab-kitab al-Baihaqi. Ia memujinya dan menjulukinya sebagai orang yang fakih.[57] Al-Dzahabi berkata, “Itu adalah mimpi yang haqq (nyata). Karya-karya al-Baihaqi sangat agung dan berlimpah manfaat. Sangat sedikit sekali orang yang sebanding beliau dalam berkarya.”[58]
Selain statemen dari kalangan ulama juga terdapat kitab-kitab ulama setelahnya yang secara khusus mengomentari kitab al-Sunan al-Kubro. Diantaranya:
1.      Al-Muhadzdzab fi Ikhtishor al-Sunan al-Kubro karya al-Dzahabi (w. 748 H)
2.      Al-Manhaj al-Mubayyan fi Bayan Adillat al-Mujtahidin karya al-Sya’roni (w. 973 H)
3.      Ikmal Tahdzib al-Kamal karya Ibn al-Mulaqqin
4.      Al-Jauhar al-Naqiy fi al-Rodd ala al-Baihaqi karya Ibn al-Turkimani (w. 750 H)
5.      Dan kitab-kitab lainnya.[59]
Dari beberapa ulama yang secara khusus memberikan catatan terhadap kitab al-Sunan al-Kubro, sependek pengetahuan kami hanya Ibn al-Turkimani mengkritik kitab tersebut. Kritikan yang ia lontarkan cukup menyeluruh. Terkadang ia memberi koreksi terhadap istilah-istilah yang dipakai al-Baihaqi. Di kasus yang lain ia juga menunjukkan sanad-sanad yang dhaif atau bermasalah. Dalam satu misalnya, ia juga memaparkan ikhtilaf yang terjadi diantara empat madzhab, kemudian menjelaskan istidlal masing-masing madzhab tersebut dan men-tarjih-nya.

  1. Komentar Kami
Setelah menguraikan beberapa catatan mengenai kitab al-Sunan al-Kubro, ada beberapa komentar atau sikap kami terhadap kitab tersebut;
Pertama, sebagai ulama yang ahli hadis-fikih, al-Baihaqi sangat mumpuni dalam menulis al-Sunan al-Kubro. Sekalipun dalam kitab tersebut masih terdapat hadis yang dhaif, namun ke-dhaif-annya tertutupi dengan hadis-hadis penguat dan catatan-catatan beliau. Ini tentu sangat berarti bagi pembaca agar tidak mentah-mentah dalam mengkonsumsinya.
Kedua, pemilihan cara al-Baihaqi untuk membela fikih Syafi’i dengan menyusun al-Sunan al-Kubro cukup tepat. Hanya saja kami tidak terlalu melihat pengaruh dari penulisan kitab tersebut terhadap masyarakat sezamannya. Hal ini dikarenakan raja yang menggantikan Tugril Bik beraliran Asy’ariyah-Syafi’iyah. Sehingga keterpengaruhan aliran masyarakat lebih dikarenakan dinasti yang berkuasa. Kendati demikian, sebagai kitab yang pertama kali menulis seluruh dalil-dalil hadis madzhab Syafi’i, kitab ini sangat bermanfaat bagi ulama setelahnya. terbukti dari statemen banyak ulama yang memujinya.
Ketiga, al-Sunan al-Kubro merupakan salah satu dwilogi magnum opus-nya al-Baihaqi. Jika pembelaan fikih Syafi’i beliau wakili dengan al-Sunan al-Kubro, maka pembelaan aqidah Asy’ariyahnya beliau wakili dengan al-Jami’ Syu’ab al-Iman. Keduanya bercorak kitab hadis. Dan keduanya bermula dari fitnah penguasa yang melatarbelakanginya.
Keempat, metodologi yang digunakan al-Baihaqi cukup komprehensif. Ia memadukan metodologi ulama-ulama hadis sebelumnya. Kelebihan yang lain ialah keilmiahan kitab tersebut melalui kutipan-kutipan perkataan ulama hadis dan fikih.
Kelima, cara berdebat al-Baihaqi dalam kitab tersebut cukup arif. Ia memosisikan dirinya sebagai orang yang netral. Ini terlihat dari beberapa judul bab yang ia pakai sebagaimana telah kami paparkan sebelumnya. Meskipun pada hakikatnya ia hendak menggiring pembaca untuk condong kepada pemahaman madzhab Syafi’i, namun hal itu tidak kentara.
Keenam, dari sekian kelebihan kitab tersebut, ada beberapa statemen al-Baihaqi yang menurut kami terkesan menjadi kelemahan. Dalam beberapa kasus ia terlihat ragu dan belum mampu memberikan kepastian status hadis. Seperti penulisan bab berikut; باب مَنْ قَالَ يَؤُمُّهُمْ أَحْسَنُهُمْ وَجْهًا إِنْ صَحَّ الْخَبَرُ.[60]

  1. Kesimpulan
Tidak dipungkiri lagi bahwa kitab al-Sunan al-Kubro merupakan kitab hadis-fikih yang sangat terkenal dan memiliki pengaruh. Terbukti dengan banyaknya kitab-kitab yang mengomentari karya al-Baihaqi tersebut. Kemampuan al-Baihaqi yang multitalenta menempatkan dirinya dalam strata ulama yang diperhitungkan pada zamannya. Ia merupakan ulama bermadzhab Syafii sejati yang membela pendapat-pendapat madzhab tersebut dari sisi hadis. Lebih spesifik lagi al-Baihaqi menuangkan pembelaan tersebut di beberapa karangannya sperti Bayanu Man Akhto’a ala al-Syafii, Takhrij Ahadits al-Umm li al-Syafii, dan kitab-kitab lainnya.
Khusus dalam al-Sunan al-Kubro al-Baihaqi memperlihatkan otoritasnya sebagai pakar hadis dan fikih. Disana ia mengolah perdebatan hukum-hukum fikih dengan cerdasnya melalui hadis-hadis yang komprehenshif dan kuat, disertai sudut pandang pemahaman dan komentar beliau terhadap hukum hadis-hadis tersebut. Sekalipun terdapat kritikan dari pengarang al-Jauhar al-Naqiy misalnya, namun kritik tersebut tidak terlalu signifikan. Selebihnya, kitab ini mendapat pujian dari banyak ulama kenamaan. Terlebih kitab ini merupakan pelopor yang mengumpulkan nash-nash hadis yang dijadikan tendensi oleh madzhab al-Syafi’i.
  


DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran al-Karim
al-Baihaqi, Abu Bakar Ahmad, al-Jami’ li Syu’ab al-Iman, (Ed. Abdul Ali Abdul Hamid), (Bombai: al-Dar al-Salafiyah, 1986)
__________________________, al-Sunan al-Kubro, (Ed. Muhammad Abdul Qodir ‘Atho), (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010)
__________________________, Dalail al-Nubuwwah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988)
__________________________, Ma’rifat al-Sunan wa al-Atsar, (Damaskus: Dar Qutaibah, 1999)
al-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad, Siyar A’lam al-Nubala’, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1993)
al-Subki, Abdul Wahhab al-Kafi, Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubro, (Mauqi’ Misykat li al-Kutub al-Islamiyah)
al-Syami, Sholih Ahmad, Zawaid al-Sunan al-Kubro, (Beirut: al-Maktab al-Islami, 2010)
al-Zahroni, Muhammad bin Mathar, Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyyah, (Riyadh: Maktabah Dar al-Minhaj, tt)
Khalaf, Najm Abdurrahman, Mawarid al-Baihaqi fi Kitabihi: al-Sunan al-Kubro ma’a dirasah naqdiyyah li manhajihi fiha, (al-Maktabah al-Syamilah)
Syuhbah, Ibn Qodhi, Thabaqat al-Syafi’iyyah, (Mauqi’ al-Waraq)
Thahhan, Mahmud, Taysir Mustholah al-Hadits, (Damaskus: Dar al-Fikr, tt)
_______________, Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1996)


http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=38592#gsc.tab=0



[1] Mahmud Thohhan, Taysir Mustholah al-Hadits, (Damaskus: Dar al-Fikr, tt), hlm. 14
[2] Fungsi ini sebagaimana tersurat dalam QS. Al-Nahl ayat 44:
Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
[3] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, (Ed. Muhammad Abdul Qodir ‘Atho), (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010), Jilid 1, hlm. 5
[4] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …,  Jilid 1, hlm. 5
[5] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …,  Jilid 1, hlm. 6
[6] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …,  Jilid 1, hlm. 7
[7] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …,  Jilid 1, hlm. 7
[8] Mahmud Thahhan, Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1996), hlm. 115
[9] Imam al-Baihaqi dalam Muqoddimah al-Sunan al-Kubro hanya menuliskan pengantar yang sangat singkat dan tidak menyebutkan alasannya menulis kitab tersebut. Lihat Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …,  Jilid 1, hlm. 3
[10] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …,  Jilid 1, hlm. 10
[11] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …,  Jilid 1, hlm. 10
[12] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Jami’ li Syu’ab al-Iman, (Ed. Abdul Ali Abdul Hamid), (Bombai: al-Dar al-Salafiyah, 1986), Jilid 1, hlm. 19
[13] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Jami’ li Syu’ab al-Iman, …, Jilid 1, hlm. 20-21
[14] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Jami’ li Syu’ab al-Iman, …, Jilid 1, hlm. 21
[15] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Jami’ li Syu’ab al-Iman, …, Jilid 1, hlm. 21
[16] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Jami’ li Syu’ab al-Iman, …, Jilid 1, hlm. 31-32
[17] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 9
[18] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 9
[19] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, Ma’rifat al-Sunan wa al-Atsar, (Damaskus: Dar Qutaibah, 1999), hlm. 212
[20] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 13-20
[21] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 20-22
[22] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 12-13
[23] Syamsuddin Muhammad al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1993), Jilid 18, hlm. 169
[24] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 22
[25] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 23
[26] Lihat catatan penghitungan hadis terakhir. Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 10, hlm. 586
[27] Sholih Ahmad al-Syami, Zawaid al-Sunan al-Kubro, (Beirut: al-Maktab al-Islami, 2010), Jilid 1, hlm. 21
[28] Sholih Ahmad al-Syami, Zawaid al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 11-12
[29] http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=38592#gsc.tab=0
[30] Najm Abdurrahman Khalaf, Mawarid al-Baihaqi fi Kitabihi: al-Sunan al-Kubro ma’a dirasah naqdiyyah li manhajihi fiha, (al-Maktabah al-Syamilah), hlm. 2
[31] Najm Abdurrahman Khalaf, Mawarid al-Baihaqi fi Kitabihi…, hlm. 27
[32] Misalnya pada bab “Membaca Basmalah sebelum Wudhu’”, dalam hadis yang diriwayatkan Ayyub bin Najjar dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. Di sana al-Baihaqi memberikan komentar bahwa, sebagaimana yang dikatakan Ayyub bin Najjar, ia hanya mendengar satu hadis dari Yahya bin Abi Katsir, namun hadis tersebut bukan hadis tentang membaca basmalah sebelum wudhu’. Maka dengan demikian al-Baihaqi menghukumi hadis tersebut dengan munqothi’. Lihat Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 73
[33] Al-Baihaqi tidak hanya men-tarjih matan hadis yang kontradiktif (mukhtalaf), namun dalam beberapa hadis ia juga men-tarjih sanad yang mukhtalaf. Lihat Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 59
[34] Ibid, hlm. 28
[35] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, Ma’rifat al-Sunan wa al-Atsar, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2001), hlm. 82
[36] http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=38592#gsc.tab=0
[37] Lihat misalnya cara al-Baihaqi menjelaskan tentang kewajiban mengusap kepala (rambut) bagi orang memakai Imamah (penutup kepala). Lihat Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 101
[38] Misalnya tentang hadis yang menjelaskan tentang mengulangi usapan kepala dalam wudhu’ sebanyak tiga kali. Lihat Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 103.
[39] Misalnya tentang hadis larangan mengambil manfaat rambut bangkai hewan. Lihat Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 1, hlm. 34-39.
[40] http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=38592#gsc.tab=0
[41] http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=38592#gsc.tab=0
[42] Lihat Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro…, Jilid 7, hlm. 58.
[43] Lihat Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro…, Jilid 8, hlm. 8.
[44] Lihat Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro…, Jilid 8, hlm. 144.
[45] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988), hlm. 47
[46] http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=38592#gsc.tab=0
[47] Ibn Qodhi Syuhbah, Thabaqat al-Syafi’iyyah, (Mauqi’ al-Waraq), hlm. 1
[48] Ibn Qodhi Syuhbah, Thabaqat al-Syafi’iyyah,…, hlm. 34
[49] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 2, hlm. 227.
[50] Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, (Damaskus: Dar al-Fikr, tt), jilid 2, hlm. 2
[51] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 2, hlm. 228
[52] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 2, hlm. 228-229
[53] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 2, hlm. 233
[54] Baca Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 2, hlm. 233-245
[55] Ibn Qodhi Syuhbah, Thabaqat al-Syafi’iyyah, (Mauqi’ al-Waraq), hlm. 34
[56] Abdul Wahhab al-Kafi al-Subki, Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubro, (Mauqi’ Misykat li al-Kutub al-Islamiyah), Jilid 4, hlm. 3
[57] Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Jami’ li Syu’ab al-Iman, …, Jilid 1, hlm. 32
[58] Syamsuddin Muhammad al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, , Jilid 18, hlm. 168
[59] Muhammad bin Mathar al-Zahroni, Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyyah, (Riyadh: Maktabah Dar al-Minhaj, tt), hlm. 155
[60] Baca Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubro, …, Jilid 3, hlm. 121

Tidak ada komentar :