Selamat Datang di Dunia olient_online

Selamat Datang di Dunia Mini olient_online
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Oktober 2014

Balada Mimpi Sang Nabi


Nabi Ibrahim AS terkejut mendapati mimpinya yang aneh. Mimpi yang tak seperti mimpi pada lazimnya. Betapa tidak. Sekian lama dia mendambakan buah hati yang ia sematkan di setiap munajatnya kepada Allah, “Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Shaffat: 100). Kini, kala pita takdir tergores dalam ujud Ismail yang saleh, tiba-tiba Allah mendatanginya dalam mimpi untuk memintanya kembali. Anehnya lagi, Allah menghendaki agar Nabi Ibrahim AS menyembelih putra kesayangannya tersebut.

Selasa, 25 Juni 2013

Cerpen Mini


Ketika itu matahari hendak menjemput titik bayangnya. seorang mahasantri berjalan menuju kamar mandi dengan berkalung handuk lawasnya. sementara Pak Kiai mengobrol dengan kuli bangunan.
"man anta?ta'al!!!", Pak Kiai memanggil.
"na'am ustadz!", jawab mahasantri kebingungan sembari mereka-reka kesalahan.
"Tahmil al-minsafah!", pinta Pak Kiai. Si mahasantri berjalan menuju sumber suara.
"Limadza la tasta'mil al-minsafah ar-rosmiyyah? lazim an tasta'mil al-minsafah al-khodhro' al-jadidah", Pak Kiai mengintrogasi. sementara si mahasantri diam seribu kata kebingungan. "al-an irmi ilal qumamah!".
si mahasantri berjalan lunglai tanpa bisa menolak diikuti langkah Pak Kiai. "Pak tukang! ambil korek api!bakar handuknya!". dan korek api pun menyala. 
"wa anta, khudz al-manasif kullaha wa dho' fauqo an-nar!bis-sur'ah!".
dan api pun berkobar bersama adzan dzuhur yang menggema, membangunkan para mahasantri dari tidur siang seraya kebingungan karena semua handuk telah hilang.
dalam hati si mahasantri berkata "maaf kawan! semuanya telah jadi abu. itu lebih baik daripada saya, yang dipaksa membakar handuk saya sendiri".


Ciputat,menjelang dzuhur

Kamis, 18 April 2013

Cerpen 3: Obsesi Liar


Dimuat di TABLOIT INSTITUT edisi XXIV/April 2013

            Galang masih saja berkutat di depan komputer bututnya. Matanya tak henti-henti memandangi layar nan lusuh dan berdebu. Sementara jemarinya terus menempel di atas tuts-tuts keyboard hitam. Sesekali pandangannya mengarah ke kiri, ke kanan dan ke atas, menerawang arah fatamorgana. Ia terus memutar otak. Mencari kelemahan yang ada pada dirinya sehingga sesuatu yang ia citakan tak kunjung tercapai. Ia tak habis pikir dimana letak kekurangan dan kelemahannya?
Di sisi kirinya berdiri saksi bisu, setumpuk buku tentang kiat-kiat menjadi penulis novel dan cerita pendek. Tak kalah banyaknya, di sisi kanan puluhan buku antologi cerpen dari berbagai penulis. Sementara di rak berjejer karya-karya fenomenal novelis kenamaan dalam maupun luar negeri. Dari sampul buku tampak Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan Bumi Cintanya Habiburrahman El Shirazy. Di sebelahnya lagi berjilid-jilid Harry Potternya JK Rolling. Nampak juga dibawahnya novel kenamaan dunia seperti Dunia Shopie, The Da Vinci Code, Lord Of The Rings dan lain-lainnya. Sementara di paling ujung terlihat nama-nama novelis Indonesia sekaliber Asma Nadia, Helvi Tiana Rosa, Afifah Afra, Fahri Asiza, Dewi Dee Lestari, Ahmad Fuadi, Andrea Hirata dan Sequel Gajah Madanya Langit Kresna Haryadi. Serta berjubel novel-novel lainnya.
Jarum jam menunjuk angka empat pagi. Ini hari ketiga Galang tak keluar kamar sama sekali. Tiga hari pula ia lupa mandi. Hanya sesekali membasuh muka dan gosok gigi. Di bawah temaram lampu yang mulai meredup rambutnya tampak kusut tak terawat. Matanya merah antara kelelahan, kurang tidur dan terlalu lama memandangi monitor. Tidur terakhirnya adalah kemarin siang. Itupun tak lebih dari dua jam. Semata-mata untuk menghilangkan lelah. Bajunya kumal dan sedikit berbau peluh keringat.

Jumat, 24 Februari 2012

Cerpen 2: Nada-nada Banjir

Malam itu, purnama enggan menampakkan cahaya terangnya. Walau tak terlihat, sebenarnya gumpalan-gumpalan mendung sedang mengarak ramai dan membentangkan jubahnya di petala langit. Angin riuh rendah bergemuruh ke semua penjuru. Selang sejenak rintik-rintik gerimis menjuntal menerpa dedaunan hingga jatuh ditelan bumi. Hujan merayap dan merapat. Gemercik air makin deras. Guntur menyambar meronta-ronta. Hening malam pecah.
          Sejatinya, bukan semata hujan lebat yang menjadikan malam terasa liar. Melainkan warga dibuat terkejut secara tiba-tiba, air setinggi lutut telah menggenangi seisi rumah mereka. Kekalutan dan ketakutan menghantui setiap nyawa. Terlebih mereka para kepala keluarga. Kalut lantaran banjir semakin pasang. Juga takut karena di luar hujan makin lebat disertai guntur berkilat. Malam itu warga gundah gulana memikirkan nyawa dan harta benda masing-masing. Karena tak mungkin mengungsi ditengah malam yang gelap pekat serta hujan yang sangat lebat, selain menanti hadirnya esok hari.
          Tak ubahnya kekhawatiran menggelayut pula di hati Syafi’i. Malam itu tak sepicing pun ia memejamkan mata walau sedetik. Keadaannya sebagai kepala keluarga mengharuskannya untuk memberikan keselamatan bagi anak-istrinya serta harta benda yang dimilikinya. Memang, banjir tak begitu membuatnya repot. Selain kekayaannya yang sedikit, nyaris tidak ada benda berharga di rumahnya yang harus betul-betul diselamatkan. Tapi rasa khawatir tertuju pada rumahnya yang sederhana, yang tiang-tiangnya sudah tak tegak lagi. Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai terjangan arus banjir merobohkan rumahnya di malam itu. Maka sampai pagi menjelang ia terus berjaga-jaga di sekitar rumahnya.
* * *

          Sejak berkeluarga, kesederhanaan telah berbaur erat bersama sendi-sendi kehidupan Syafi’i. Rumah yang kecil, dengan dinding anyaman bambu serta lantai tanah, sudah cukup menjadi cerminan kesederhanaan itu. Tidak pernah terbersit harapan di hatinya untuk menjulangkan tembok-tembok di dindingnya dan membentangkan keramik di alasnya. Selain dia bukan pribadi yang gemar bermewah-mewahan, tentu karena tidak ada biaya untuk itu semua. Cukup asalkan esok hari ada rizki untuk mencukupi kebutuhan makan, serta keluarganya senantiasa diberkahi kesehatan, hal itu sudah merupakan nikmat tak terkira yang akan membuatnya selalu bersyukur kepada-Nya. Demikian ritme kehidupan masyarakat miskin pada umumnya, khususnya kehidupan Syafi’i setiap harinya.
          Akan tetapi bila bersinggungan dengan pendidikan bagi anak-anaknya, Syafi’i senantiasa bertekad untuk memperjuangkan sepenuh jiwa dan raga. Ibarat kata, walau badan remuk redam untuk mengais rizki setiap saat, kalau itu demi kesuksesan pendidikan buah hatinya, niscaya akan dijlaninya tanpa bosan dan lelah. Keinginannya sederhana, memberikan kesempatan pendidikan setinggi mungkin bagi sang anak selagi nyawa masih dikandung badan. Walau tak pernah mengenyam pendidikan formal, namun ada bara keyakinan di hatinya, bahwa pendidikan akan menyelamatkan seseorang dunia dan akhirat. Dengan pendidikan pula akan dihargai dan dihormati setiap saat. Ia berharap kelak anak-anaknya menjadi tunas-tunas bangsa yang berguna bagi agama, Negara, nusa dan bangsa.
* * *

            Pagi itu Syafi’i belum juga tidur. Setelah semalam suntuk menetralisir keadaan rumah, mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat terjadi kapan saja, kini pagi-pagi buta ia harus mengemasi barang-barangnya dan berbondong-bondong menuju kediaman Kepala Desa untuk mengungsi bersama keluarganya dan warga yang lain. Alasannya jelas, kediaman Kepala Desa tentu luas dan dibangun sedemikian rupa sehingga terhindar dari banjir. Toh, memang sudah menjadi kewajiban sang Kepala Desa untuk mengayomi setiap warganya.
          Setiba di pengungsian Syafi’i merebah. Badannya terkulai lemas tak kuat menahan rasa kantuk dan lelah. Matanya memejam. Di sebelah, Rasti, sang istri sibuk merapikan barang bawaan.
          “Kira-kira banjir sampai kapan, ya, Bu ?”.
          “Entah Pak. Barang kali akan lama. Apalagi seminggu terakhir, hujan tak jua reda. Yang penting kita sudah aman di pengungsian toh Pak !” jawab Rasti lembut dan datar.
          “Bener sih Bu. Hanya saja, apa kabarnya padi di sawah ? Haruskah jerih payah kita gagal lagi? Padahal tinggal menuai lho Bu! Mana pupuknya dulu masih ngutang lagi! Pakai apalagi untuk menutup hutang-hutang tersebut?” keluh Syafi’i rendah dan pasrah.
          Rasti menatap wajah iba suaminya lekat-lekat. Sosok pekerja keras tampak jelas dari guratan otot-otot di dahi bapak tiga anak itu. Kini buah hasil memeras keringat sepanjang hari yang hendak dipetik, terancam gagal oleh banjir. Rasti tak kuat hati memandanginya.
          “Jangan ngomong gitu toh Pak. Gusthi Allah pun pirso. Jangan mengurangi keimanan kita kepada-Nya. Tidak ada jerih payah hamba-Nya yang sia-sia. Yang penting kita ikhlas menjalaninya karna-Nya. Kalau memang tidak dapat memetik hasil kerja keras kita, yakinlah bahwa Allah akan menggantinya dari tempat yang tak pernah kita sangka. Bukankah demikian bunyi di salah satu ayat Al-Qur’an? Tapi percayalah, insya Allah semua akan baik-baik saja”.
          “Yah, semoga saja begitu Bu. Kalau pun memang harus gagal panen, itu artinya bukan rezeki kita ya, Bu. Yah, yang penting nikmat yang telah ada sekarang, kita syukuri bersama untuk senantiasa beribadah kepada-Nya” timpal Syafi’i menghibur dan meyakinkan diri.
          Siapa sangka, di tengah keresahan dan beban hidup yang amat pelik, Syafi’i masih sempat berlapang dada untuk tetap bersyukur kepada-Nya. Di lingkaran lika-liku terjal perjalanan hidup, ia teramat ikhlas mengekspresikan kehambaannya kepada Allah.
          “Oh ya Pak. Anu …..”, Rasti berhenti sejenak, seakan tak tega dengan apa yang hendak dikatakannya, “Tadi Pak Lurah bilang, katanya Anna nelpon uang sakunya habis, dia minta kiriman di Pesantren”.
          Entah bagaimana lagi untuk menggambarkan hati Syafi’i. Jatuh bangun tidak hanya sampai pada musibah banjir dan ancaman gagal panen semata. Nun jauh di pesantren sang anak sedang menanti biaya untuk mencukupi kelangsungan hidupnya dalam menuntut ilmu. Sebagai tulang punggung keluarga, sudah semestinya Syafi’i dibebani akan hal itu.
          Sejak lulus Madrasah Tsanawiyah dua tahun lalu, Syafi’i mempercayakan pendidikan Anna di pesantren. Melalui pesantren ia ingin mempersiapkan anaknya menjadi generasi muslimah yang sholehah, akrom, cerdas, aktif, bertaqwa kepada-Nya, mencintai rasul-Nya, serta kasih sayang kepada sesama. Agar tidak kalah dalam hal ilmu dunia, Anna juga sekolah di Madrasah Aliyah. Oleh karenanya, sang ayah harus mencukupi kebutuhan yang tidak sedikit setiap bulan. Sedangkan ia sendiri tidak punya penghasilan tetap. Hanya ada sebuah tekad dan keyakinan dalam jiwanya, jika bersungguh-sungguh demi menuntut ilmu, niscaya Allah akan mencukupinya. Meskipun dengan jalan berhutang terlebih dahulu kepada H. Amin, juragan beras tempat ia bekerja tempo hari. Baru setelah panen raya tiba, ia akan menutup lubang-lubang hutang tersebut. Namun apa jadinya, jika padi yang hendak jadi jaminan terancam gagal panen?.
          Syafi’i membuka matanya perlahan. Pandangannya berpaling ke wajah sang istri. Rasti balik menatapnya. Diam tanpa kata dua pasang mata itu bertemu dalam irama kasih sayang. Baik dalam keadaan susah maupun senang, suka maupun duka. Syafi’i tersenyum tipis.
          “Insya Allah, Bu. Insya Allah ada rizki untuk anak kita, Anna. Allah sedang mempersiapkannya. Percayalah…..” ucap Syafi’i lirih meyakinkan sang istri.
          Rasti mengangguk seraya tersenyum. Namun seketika tiba-tiba tersentak, “Astaghfirullah, bukannya bapak belum sholat subuh? Cepetan! Keburu matahari terbit” seru Rasti mengingatkan.
          “Ya Allah……….. ampuni aku ya Rabb”. Segera Syafi’i bangkit untuk bertamu kepada-Nya.
* * *

          Seberkas cahaya memancar dari ufuk timur. Hari ini mentari bersinar terang. Tanpa terasa banjir telah memasuki harinya yang ketiga. Sementara itu, genangan air tinggal selutut kaki. Pagi ini Syafi’i berencana meninjau keadaan rumahnya yang tergenang. Barang kali ada sesuatu yang bisa dilakukan disana.
          Sesampainya di rumah sederhana yang telah ia tinggalkan selama tiga hari terakhir ini, ia segera membersihkan lumpur-lumpur yang tersisa. Kemudian ia memastikan keadaan semua sudut dan sekeliling rumah dalam keadaan baik dan aman. Tiba-tiba pesan Pak Lurah tiga hari silam terngiang. Seketika ia merasa iba dan berdosa kepada Anna, anak pertamanya. Sampai pagi itu ia belum juga mendapatkan apa yang hendak diberikan kepada Anna. Maka pagi itu juga, setelah memastikan keadaan rumah beres, Syafi’i bergegas ke sawah meninjau padi.
          Untuk sampai sawah di ujung desa, Syafi’i harus menempuh jalan melintasi sungai yang membelah desa, yang dari luapan sungai tersebutlah banjir melanda. Ia telah sampai di bibir sungai, tapi kebingungan untuk menyeberang. Jembatan yang selama ini menjadi penghubung, telah raib diterjang banjir. Lalu ia mengitarkan pandangan ke semua arah. Wajahnya berbinar kala melihat gedebok pisang terkapar di seberang jalan.
          “Ini dia caranya. Tak ada jalan lain” ujarnya pada diri sendiri.
          Gedebok itu kini berada di depannya dan siap menjadi alat bantu berenang menyeberangi sungai. Setelah tangan dan kepalanya diletakkan di atas gedebok, bibirnya mengucap bismillah. Kedua kakinya mengayuh di air. Sesaat ia terlena dalam irama aliran sungai, sebelum tiba-tiba gelombang pasang air bergulung-gulung di depannya. Sekilat mungkin gelombang itu menyeretnya dalam pusaran air hingga ia tak sadar lagi keadaannya.
* * *

          Sering kali musibah banjir yang terjadi di sekitar kita menyisakan cerita duka lara yang mendalam. Tak sedikit kerugian yang harus ditanggung akibat ulah sebagian orang yang selama ini mementingkan egoisme pribadi. Padahal, jika saja mereka mau merubah kebiasaan buang sampah sembarangan serta ramah terhadap lingkungan, hutan dan alam, kerugian-kerugian itu tidak akan terjadi atau paling tidak dapat diminimalisir.
          Syafi’i hanya segelintir orang yang harus menanggung akibat tersebut. Hidupnya yang telah susah masih ditambah dengan kepayahan yang hampir merenggut nyawanya. Amat disayangkan jika nada-nada sumbang banjir seperti itu terus membudaya tiap tahun.
          Syafi’i tergeletak tak sadarkan diri. Istri, anak dan tetangganya berkerumun mengelilinginya. Tangannya bergerak. Perlahan kedua matanya terbuka.
          “A…..a…ada apa, Bu?” ucapnya lemah terbata-bata.
          “Istirahat dulu, Pak. Kondisimu masih lemah” jawab Rasti lembut.
          “Assalamu’alaikum….” Sosok suara lelaki terdengar.
          Rasti menoleh. “Wa’alaikum salam. Oh, Pak Lurah. Monggo Pak.”
          “Bagaimana keadaanmu Pak Syafi’i? Sudah baikan?” tanya Pak Lurah. “Oh ya, tadi Anna telepon, katanya untuk satu bulan ke depan ini tidak usah dikirimi. Kemarin dia dapat honor dari tulisannya yang dimuat di salah satu koran. Anna itu pinter lho Pak!”.
          “Alhamdulillah…….” secercah sinar kebahagiaan memancar di wajah dan hati Syafi’i, diikuti ucap syukur oleh Rasti dalam hati. Wallahu A’lam.

Brakas, diantara gemericik hujan dan banjir di bawah temaram lampu malam Februari 2012.

Jumat, 04 Desember 2009

Cerpen 1 : Risau Surau

            Pesona awan yang memerah masih menggantung di hamparan langit ufuk barat. Segera menyusul kegelapan petang, mengejar dari jagad timur. Siang pun dilumat oleh datangnya malam. Menghentikan aktifitas para pekerja. Menyapa para pelajar untuk bersua bersama orang tua. Menyatukan induk hewan dengan anaknya. Memanggil suara binatang malam. Mempertemukan para bapak dengan istri dan anaknya. Malam sedang berpacu.
            Segera adzan bergema. Mengalun merdu menyapa alam, laut, matahari, tumbuh-tumbuhan, hewan, serta seluruh makhluk di muka bumi ini. Bertasbih mengagungkan kebesaran-Nya. Sementara aku masih berdiri tak jauh dari sumber suara itu. Memandangi lekat-lekat surau tua di depanku. Sekian lama ku tinggalkan ke pesantren, di mataku surau itu masih tetap tampak megah, indah dan berharga walau telah lapuk dimakan usia. Barangkali laboratorium ilmu dan ibadah itu tidak begitu menarik bagi kebanyakan orang. Selain dinding-dindingnya yang telah keropos, atau atap yang bocor saat musim hujan tiba, tidak ada benda-benda yang berharga atau istimewa disana. Bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan rumah disekelilingnya, surau itu ibaratkan rakyat kecil pucat, berdiri di tengah para pejabat kaya raya untuk meminta-minta.
           Aku pun memasuki bangunan itu. Setelah selesai mendirikan sholat Maghrib berjama’ah, kusempatkan membaca Al-Qur’an walau sejenak. Ku ambil Mushaf Al-Qur’an yang tampak lusuh dan berdebu di lemari. “Tampaknya mushaf-mushaf ini tak pernah digunakan” pikirku.
“Rizal! Kapan pulang?” Kyai Abdullah, imam surau itu memanggilku. Beliau adalah orang yang selalu membimbingku sebelum di pesantren. Di bawah asuhannya, pertama kali aku mampu membaca Al-Qur’an kala masih kecil. Dulu, setiap hari aku mengaji dengan beliau bersama teman-temanku yang sangat banyak. Selain alim dan bersahaja, beliau juga hafal Al-Qur’an.
            Aku berjalan, merunduk menghadap beliau. Walaupun semakin tua, tapi sorot wajah beliau masih sama seperti dulu. Teduh dan mengayomi umat. Dengan sorban yang mengelilingi leher beliau, semakin menambah wibawa. Ku sempatkan mencium tangan beliau terlebih dahulu. “Oh.. inggih Pak Kyai. Tadi sore setelah Ashar”.
            Kami terdiam sejenak. Lalu ku beranikan diriku bertanya-tanya. “Kok sepi ya Pak Kyai? Padahal, dulu waktu setelah Maghrib seperti ini kan paling ramai-ramainya orang mengaji?”
            Kyai Abdullah menghirup nafas sejenak. Beliau tampak mendesah. “Ya… beginilah Zal. Semua orang sekarang menganggap belajar Al-Qur’an tidak penting. Mereka sibuk mengurusi urusan duniawi sampai melupakan pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak mereka. Boro-boro mengurusi ngaji, berjama’ah saja mereka susah. Paling-paling, ada jama’ah ya waktu Maghrib saja. Itu pun tidak seramai dulu. Sampai surau ini akan roboh pun mereka tidak pula memperhatikannya”.
           Keresahan dan keputusasaan beliau juga aku rasakan. Sekali lagi kami terdiam. Aku tak berani mengeluarkan kata-kata. Beliau terbatuk-batuk sesaat. “Zal! Aku ini sudah tua. Aku tak segiat seperti dulu untuk berdakwah. Sudah saatnya, sebagai generasi muda kamu membaktikan dirimu untuk menjaga keislaman di desa ini. Kalau tidak ada yang meneruskan, apa jadinya agama islam ke depan?”.
            “Pak Kyai, aku ini belum bisa apa-apa. Aku ini anak kemarin sore yang masih harus menuntut ilmu lebih bayak”.
            “Lebih baik punya ilmu sedikit tapi diamalkan, daripada ilmu banyak tapi lupa dengan masyarakat di sekelilingnya. Setiap saat kamu masih dapat belajar dari realita kehidupan”.
* * *
Pukul setengah empat pagi.
            Aku terbangun. Diluar hujan deras masih mengguyur. Barang kali tak banyak orang yang tahu sejak jam berapa hujan itu turun. Semua orang terbius oleh nikmatnya tidur malam. Maklum, para orang tua sejak pagi sampai sore harus membanting tulang setiap hari. Sedangkan para anak-anak belajar di pagi hari dan bermain sore harinya. Maka wajar, ketika jarum jam ada pada angka sepuluh malam, desa ini telah sunyi senyap. Rupanya malam hari menjadi waktu tepat untuk beristirihat, melepas lelah dan penat.
            Aku berusaha bangkit dari tidur sekedar untuk mendirikan sholat malam. Tapi rasa dingin yang cukup menjadikanku ini menggigil, memberatkan niatku. Sementara diluar, guntur bergemuruh keras dan bersahut-sahutan. Malam benar-benar terbalut oleh pekatnya gelap dan derasnya hujan. Sebagaimana juga aku yang tak kuasa untuk melepas jaket dan selimut. Malam itu, aku kalah oleh hawa dingin. Akhirnya, kuurungkan niatku untuk bangun. Rasanya membalutkan jaket dan selimut lebih nikmat dibandingkan harus menyentuh sepercik air wudhu yang dinginnya tiada terkira.
            “Ngga’ bangun sekali aja kan ngga’ apa-apa. Habisnya dingin sih! Toh, hujannya semakin deras”. Batinku berusaha memantapkan diri ini untuk benar-benar mengurungkan niat. Padahal sesungguhnya setan sedang menyelinap diam-diam, menggodaku untuk meninggalkan kebaikan. Aku terlupa bahwa pada saat hujan yang deras seperti ini, Allah melimpahkan rahmat di setiap tetesan, bagi mereka yang menenggelamkan diri dalam runduk do’a, bermunajat, mengagungkan kebesaran-Nya.
            Aku benar-benar kalah pagi ini. Segera kupejamkan mata kembali. Menikmati dunia mimpi dalam balutan guyuran air hujan. Namun, ketika alam sadarku hendak melangkah ke alam mimpi, sayup-sayup aku mendengar suara bersahut-sahutan dari ujung corong speaker.
            Seruan adzan Subuh menggema. Menyapa hujan yang sesekali diiringi oleh hembusan angin kencang. Sangat kencang. Menyapa iman para muslimin. Seberapa besar mereka kuat memenuhi panggilan Ilahi diantara dinginnya air hujan dan nikmatnya tidur malam. Aku segera bangun dan memaksakan muka ini dibasuh oleh dinginnya air wudhu. Panggilan sholat subuh akhirnya aku dirikan sendirian di Musholla pribadi. Karena terlalu berat bagiku untuk berjama’ah di surau yang cukup jauh dari rumahku, dalam keadaan hujan yang sederas ini. Setelah sholat kusempatkan membaca Al-Qur’an walaupun hanya satu juz.
* * *
Pukul setengah enam pagi.
            Gumpalan awan hitam telah bergeser dari langit desa. Hujan telah reda meninggalkan cerita yang beraneka ragam. Gara-gara hujan, rumah pak Rahmat dekat tepi sungai, penuh dengan air luapan sungai yang pasang akibat hujan semalam. Sementara di seberang timur, pak Ahmad seperti kebakaran jenggot. Padi yang telah menguning, gagal dipanen karena sawahnya penuh air seperti lautan. Pak Hadi adalah yang paling riang. Sejak musim hujan tiba, dagangan payung dan mantolnya laris manis tiap hari diburu pembeli. Sebagaimana cerita-cerita itu, hujan semalam juga menyisakan cerita duka yang mendalam. Terlebih bagi diriku yang merasa amat kehilangan.
            Aku sedang duduk di balai depan rumahku. Ku tebarkan pandangan ke semua arah. Di depan sana sisa-sisa air hujan masih terlihat di ujung dedaunan yang menetes. Pandanganku terheran oleh langkah Andi yang tergesa-gesa. Kemudian disusul Abdul dan Agus dibelakangnya. Aku berjalan menghampiri mereka.
           “Gus, ada apa? Kok jalanmu tergesa-gesa seperti ada sesuatu yang penting” aku mencoba mereka-reka apa yang ada di pikiran Agus. Tapi tidak bisa.
            “Lho, Zal! Kok kamu masih di rumah? Memangnya kamu tidak tahu musibah semalam ya?”
            “Musibah! musibah apa?” aku mengerutkan dahi. Mataku menatapnya lekat-lekat penuh penasaran.
           “Musibah tadi Shubuh. Kyai Abdullah wafat tertimpa runtuhan surau yang ambruk waktu beliau sedang Sholat Shubuh. Aku juga belum tahu pastinya, soalnya aku baru tahu dari Pakde. Sudah ya… aku buru-buru mau langsung kesana” Agus menjelaskan singkat, padat dan jelas.
            Mendengar kabar itu, ususku bagai dilolosi satu per satu. Hatiku bagai dicabik-cabik oleh tajamnya pedang. Darahku seolah berhenti mengalir, membeku setelah mendengar bahwa orang yang selama ini menjadi penjaga moral dan ruhku kini telah tiada. Sampai-sampai, aku pun tidak sadar kalau Agus telah berjalan meninggalkanku.
            Tidak perlu pikir panjang, aku segera menyusul mengikutinya. Di jalan hatiku kalang kabut. Seolah tidak rela dengan kepergian Kyai Abdullah. Kenapa beliau harus pergi duluan disaat desa ini masih sangat membutuhkan sosok beliau. Kenapa tidak para koruptor, teroris atau penguasa yang dholim yang meninggal lebih dulu. Kenapa tidak mereka yang selama ini memalukan dan merugikan bangsa dan agama ini.
           Pagi itu mendung desaku benar-benar berduka. Sosok yang selama ini menjadi pilar utama penyangga moral dan iman desa ini harus kembali kepada-Nya. Tokoh yang selama ini tidak pernah lelah mensyi’arkan panji-panji islami kini telah tiada. Meninggalkan desa yang sesungguhnya belum kokoh menghadapi lika-liku kehidupan. Meninggalkan kami semua. Terlebih, meninggalkanku yang belum siap, belum mampu dan merasa belum layak meneruskan perjuangannya.
          Pagi itu hujan telah membawa pesan dari surau. Pesan peringatan bagi umat agar selalu memperhatikannya. Dalam artian agar umat ini senantiasa meramaikan surau-surau dengan mendirikan sholat berjama’ah lima waktu, serta mengadakan majlis-majlis pengajian. Karena pada hakikatnya, surau itu telah roboh jauh-jauh hari ketika umat ini telah merendahkan urusan sholat berjama’ah demi mengejar nafsu duniawi. Sesungguhnya sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan inkar.
Wallahu A’lam…

Brakas, dalam keresahan atas kondisi keumatan islam kekinian