Selamat Datang di Dunia olient_online

Selamat Datang di Dunia Mini olient_online
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 April 2017

Bijak Menyikapi Hoax


Belakangan ini, masyarakat Indonesia ramai membincangkan hoax atau berita palsu. Isu ini telah meresahkan banyak pihak, sampai-sampai pemerintah membentuk satuan tugas pemberantas hoax. Saat ini, hoax sedang menemukan momentumnya dalam kontes politik pemilihan kepala daerah, dimana semua pasangan calon sedang disorot sosoknya. Ketika itu hoax-hoax bertebaran dengan cara menjunjung setinggi langit calon yang didukungnya atau menjatuhkan martabat lawan politiknya.
Selain karena menjamurnya pemakai media sosial, setidaknya hoax tumbuh subur seiring dengan keberadaan para produsennya yang rela menggadaikan harga diri demi memperoleh receh yang tidak seberapa. Kepandaiannya dalam menulis berita dan mem-viral-kannya di dunia maya digunakan untuk menciptakan kabar-kabar pujian kepada calon yang didukungnya atau mengumbar keburukan lawan politiknya tanpa dasar kebenaran dan fakta lapangan.
Sayangnya, kabar hoax tersebut lalu dikonsumsi oleh orang-orang yang terlanjur fanatis mendukung calon tertentu dan membenci calon yang lain. Sehingga mereka menelan mentah-mentah berita yang diterima tanpa mau mengetahui kebenaran sesungguhnya. Imbasnya, kecintaan mereka terhadap sosok yang didukung semakin tinggi seiring dengan kebencian yang semakin membuta terhadap lawan politiknya. Untuk mengekspresikan perasaan tersebut, mereka membagikan berita-berita hoax di akun media sosialnya.
Maka menyebarlah berita-berita bohong tersebut dan menggelinding dari satu dinding ke dinding yang lain, dari satu grup ke grup yang lain. Fitnah pun merajalela tak berkesudahan dan salah satu pihak menuai keuntungan dari hal itu. Sementara pihak lain harus menelan kerugian dari pemberitaan sosoknya yang tidak valid.
Problem berita hoax sebenarnya telah lama ada, bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Nabi Adam as., sebagai bapaknya umat manusia, pernah termakan kabar hoax dari Iblis. Sebagaimana kita tahu, pada awal mula Allah Swt. memperkenan Adam dan istrinya, Hawa, untuk tinggal di surga serta menikmati seluruh hidangan yang ada di sana, kecuali dari satu pohon. Bahkan Allah melarang mereka mendekati pohon tersebut. Allah Swt. tidak merinci secara jelas nama pohon tersebut, namun dari dialog Iblis diketahui bahwa pohon tersebut bernama khuldi.
Pasca pelarangan Allah Swt. tersebut, Iblis diam-diam membisikan berita hoax kepada Nabi Adam dan istrinya seraya bersumpah. Dikatakan bahwa pelarangan memakan buah khuldi bagi Adam dan istrinya dikarenakan hal itu akan merubah status mereka menjadi malaikat atau akan menjadikan mereka hidup kekal di surga. Karenanya Allah Swt. melarang mereka melakukan hal tersebut.
Rupanya Nabi Adam as. dan Hawa termakan tipuan Iblis. Mereka akhirnya mendekati pohon khuldi dan memakan buahnya. Puncaknya, Allah swt. menurunkan mereka ke bumi. Kisah ini diabadikan dalam QS. Thoha: 19-21. Pada masa Rasulullah Saw., berita hoax juga pernah dihembuskan oleh orang-orang munafik: Abdullah bin Ubay, Hasan bin Tsabit, Misthah bin Utsatsah, dan Hamnah bintu Jahsy. Mereka dengan sengaja menebar fitnah perselingkuhan Aisyah ra. dengan salah seorang sahabat bernama Shafwan bin al-Mu’aththal, sepulang dari perang Bani Mustholiq. Kabar bohong itu menyebar ke telinga para sahabat. Hingga Nabi pun hampir terhasut olehnya, sebelum pada akhirnya turun ayat yang membantah kabar dusta yang terlanjur berhembus itu. Peristiwa ini populer dengan sebutan hadits al-ifki.
Nabi Saw. sendiri mengecam tindakan pemberitaan hoax, terlebih jika hal itu disandarkan pada dirinya. Memang beliau memerintahkan para sahabat untuk menyampaikan kepada yang lain apa yang berasal darinya walaupun hanya satu ayat al-Quran. Namun, pada saat yang sama beliau mengecam bagi siapa saja yang berani mendustakan sesuatu kepadanya dengan sengaja, maka neraka telah dipersiapkan untuk orang tersebut. (lihat HR. Bukhari)
Karenanya, berhati-hatilah dengan berita hoax. Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang yang termakan olehnya, lebih-lebih andil menyebarkannya atau bahkan membuatnya. Marilah kita cerdas dan cermat menyikapi setiap berita yang datang. Bijak menyikapi hoax menjadi penting pada hari ini, dimana hal itu akan menghindarkan kita dari kebencian yang membabi buta terhadap seseorang atau kecintaan berlebihan seolah tanpa cela.
Ada banyak teladan Nabi saw. dalam menyikapi setiap berita yang datang. Dalam konteks hari ini, teladan tersebut penting untuk diamalkan. Mula-mula saringlah setiap berita yang menghampiri kita dengan menguji validitasnya. Al-Quran mengajarkan kita untuk ber-tabayun (memeriksa kebenaran) manakala seseorang datang membawa suatu berita (lihat QS. Al-Hujurat: 6). Jangan terburu-buru menyebarkan kabar di media sosial, sebelum kita dapat memastikan kebenarannya. Tabayun ini penting guna menghindarkan diri dari memfitnah orang lain. Karena, kabar yang valid sekalipun, rawan untuk diplintir oleh orang yang memberitakan, sehingga pemahamannya pun berbeda dari maksud orang yang diberitakan. Apalagi jika kabar tersebut palsu.
Para ulama hadis memiliki formulasi tersendiri dalam menguji validitas setiap hadis yang mereka terima. Apakah hadis tersebut benar adanya berasal dari Nabi atau jangan-jangan hoax? Untuk mengetahui hal itu mereka menerapkan lima hal sebagai prasyarat diterimanya sebuah hadis: ketersambungan sanad, rawinya memiliki integritas (adil) dan kapasitas intelektual kognitif (dhabit), hadisnya tidak janggal (syadz) dan tidak terkena cacat (illat).
Memang, tidak sepenuhnya tepat jika kita menggunakan metode kritik hadis tersebut untuk menguji validitas berita hoax yang beredar akhir-akhir ini. Namun, setidaknya terdapat spirit yang bisa kita ambil dari metode itu. Dalam konteks pemberitaan tentang seseorang yang masih hidup, kita dapat ber-tabayun langsung kepada orangnya sekedar memastikan validitasnya. Atau kita lihat sumbernya, apakah dari orang atau media yang memiliki integritas dan rekam jejak yang baik? Sehingga apa yang ia kabarkan dapat dipertanggungjawabkan.
Jika berita tersebut hoax, segera buanglah ke tong sampah dan jangan sekali-sekali memungutnya apalagi menyebarkannya. Namun, jika berita tersebut valid, langkah selanjutnya adalah memeriksa konten beritanya. Jika berita tersebut berisi kebaikan, maka baik pula bagi kita untuk membagikan atau mempublikasikan kepada sesama, sehingga pembaca memperoleh kemanfaatan darinya dan kita menuai pahala karenanya. Namun jika berita tersebut berisi hal buruk, maka menahan diri untuk tidak mempublikasikannya adalah sikap yang bijak, agar kita tidak jatuh pada wilayah ghibah (menggunjing).
Suatu ketika Rasulullah Saw. bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian, apakah ghibah itu?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Ghibah adalah ketika kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.”
Ketika itu seorang sahabat merasa keberatan seraya bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?”
Rasulullah Saw. pun menjawab, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.” (HR. Muslim)
Demikianlah teladan Rasulullah Saw. dalam menyikapi berita. Betapapun kita harus cerdas dan bijak menyikapi berita yang datang. Jangan mudah terprovokasi oleh kabar yang beredar, lalu lupa menguji kebenarannya. Dan jangan mudah mempublikasikan sesuatu yang tidak baik meskipun faktual. Nabi Saw. mengajarkan kita untuk berkata baik, atau jika tidak bisa maka lebih baik diam. (HR. Bukhari dan Muslim). Demikian halnya kita hendaknya memublikasikan kebaikan, namun jika tidak bisa maka menahan diri itu lebih baik.
Hanya saja, seringkali kita terbawa hawa nafsu untuk mengomentari atau mempublikan segala isu. Terlebih jika diri kita sudah dihinggapi virus kebencian terhadap seseorang, maka apapun yang berisi keburukan orang tersebut dengan mudah kita umbar di media sosial, tanpa mau memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Jika sudah demikian, tidakkah lebih baik menahan diri?
Ada baiknya kita renungi ucapan Bisyr bin Harits ketika ditanya seseorang, “kapan aku harus diam dan kapan aku harus bicara?”. Beliau menjawab, “jika anda berhasrat bicara, maka diamlah, dan jika anda berhasrat diam, maka bicaralah!”. Wallahu a’lam.

Minggu, 25 September 2016

Sudut Pandang



            Sejak semalam hingga sore tadi setidaknya saya mendengar dua kali kata sudut pandang diperbincangkan. Pertama, seorang senior di Darus-Sunnah dalam diskusi tentang Dakwah Nabi semalam mengatakan, “dalam membaca sejarah, jangan sekali-sekali anda menggunakan sudut pandang kekinian untuk memahami sejarah.”
Ia kemudian menjelaskan bahwa ketika mendengar kata politik Nabi, misalnya, maka jangan serta merta memahami arti ‘politik’ tersebut sebagai pemahaman kita saat ini. Bahwa politik itu kotor, politik itu minus idealisme, politik itu terkait mana yang menguntungkan, dan seterusnya.
Kedua, seorang senior di Mathali’ul Falah yang telah sukses di ibu kota mengatakan, “ubahlah sudut pandang anda tentang Jakarta yang sekarang. Jakarta hari ini tak se-mengkhawatirkan dulu.”
Ia kemudian bercerita bahwa dulu para orang tua takut menguliahkan anaknya di Ibu kota. Dalam benak mereka Jakarta itu jauh dan membahayakan. Padahal tidak demikian sekarang. Teknologi dan transportasi semakin maju menembus batas-batas ruang dan waktu.
Dari dua statement tersebut ada hal yang menarik. Pemahaman anda tentang suatu hal di masa sekarang jangan digunakan untuk memahami hal yang sama di masa lalu. Sebagaimana pemahaman masa lalu jangan digunakan untuk membaca hal yang sama di masa sekarang. Keduanya harus proporsional.
Pengertian sudut pandang yang populer adalah cara penulis dalam menempatkan dirinya dalam sebuah cerita atau teknik yang dipilih oleh penulis untuk menyampaikan pesan dalam cerita yang ditulisnya. Semisal dalam cerpen, penulis dapat menempatkan dirinya dalam posisi sudut pandang orang pertama atau orang kedua.
Secara lebih luas, sudut pandang sederhananya adalah cara kita memandang. Dari sudut mana kita menangkap objek. Seorang lelaki melihat seorang gadis dari depan lalu mengatakan ‘cantik’. Lelaki lain melihat gadis yang sama dari depan lalu mengatakan ‘jelek’ hatinya. Lelaki ketiga melihat gadis yang sama dari belakang lalu mengatakan ‘tidak tahu’.
Ada tiga hasil berbeda dari memandang satu objek yang sama. Perbedaan itu muncul karena berbedanya sudut dalam memandang. Semua tergantung dari sudut mana seseorang melihat objek.
Jawa Tengah bila dilihat dari Jawa Barat maka letaknya berada di timur, sebaliknya bila dilihat dari Jawa Timur maka letaknya berada di barat.
Agar menemukan hasil amatan yang sama maka satukan sudut pandang terlebih dahulu. Berbicara hukum Islam maka lihatlah dari sudut pandang fikih. Kendati pun masih dimungkinkan adanya perbedaan hasil amatan, dikarenakan adanya ragam sudut pandang dalam berfikih. Tapi paling tidak berangkatnya sama, dari satu sudut yaitu fikih. Sehingga ketika menemukan hasil yang berbeda tidak saling menyalahkan. Pun perbedaannya tidak terlampau jauh.
Ketika anda melihat pisau berada di tangan penjahat maka mindset anda mengatakan bahwa dia akan atau telah membunuh seseorang. Sebaliknya, ketika pisau tersebut berada di tangan seorang koki maka mindset anda mengatakan bahwa dia akan meracik bumbu. Padahal belum tentu demikian, bukan?
Seorang penjahat memegang pisau berpotensi besar digunakan untuk memasak mana kala ia sedang berada di dapur. Sebaliknya, pisau yang berada di tangan seorang koki berpotensi besar digunakan untuk membunuh ketika nyawanya sedang terancam di sekeliling penjahat. Maka sudut pandang anda tentang suatu hal jangan dilepas begitu saja. Harus dikombinasikan dengan kondisi ruang dan waktu yang melingkupinya.
Itulah mengapa dalam memahami substansi al-Quran dan hadis kita diharuskan mengetahui latar sosio-historis yang melingkupinya. Agar pemahaman kita akan sebuah teks tidak liar, tidak tercerabut dari ko-teks, dan konteks. Minus ko-teks berpotensi liberal, tanpa konteks berpotensi radikal.
Keterbatasan sudut pandang menjadikan kita sempit memandang sesuatu. Bak katak dalam tempurung. Yang hanya mengira dunia ini sesempit tempurung. Padahal di luaran sana alam terbentang luas. Dan banyak sudut tempat berpijak untuk memandang.
Maka bukalah tempurung itu. Dan timbalah ragam sudut pandang dari sumur kehidupan. Lalu letakkan sudut pandang tersebut pada tempatnya.

Kamis, 05 November 2015

Enterpreunership dan Strategi Pengembangan Ekonomi Nahdliyyin



Pendahuluan
Sebagai organisasi masa Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki pengalaman dan sayap yang luas di berbagai sisi kehidupan. Politik kekuasaan menjadi pengalaman yang cukup kentara di tubuh NU. Sementara proyeksi pengembangan ekonomi umat dan bidang lainnya nyaris tidak terdengar gaunya. Padahal, jika kita tengok sejarah, NU selalu memperoleh raport merah di dunia politik. Keterlibatan NU dalam panggung politik justru sering berujung pada perpecahan baik kalangan elite maupun akar rumput (gressroot).
            Masa NU tersebar hampir di seluruh penjuru daerah. Meskipun tidak ada data pasti mengenai jumlah warga NU, namun dari berbagai literatur menyebutkan bahwa jumlah mereka tidak kurang dari 40 juta orang. Jumlah yang sangat prestisius tersebut seringkali dimanfaatkan oleh para pelaku politik untuk mendongkrak perolehan suara dalam pemilihan umum daerah maupun nasional. Keberadaan mereka yang mayoritas di pedesaan dan identik dengan kemiskinan menjadikannya tunduk pada iming-iming politik. Mereka menjadi komoditas bagi para calon pemimpin yang menjanjikan kesejahteraan hidup. Tak peduli dari kalangan NU maupun tidak.
            Kenyataan ini cukup disayangkan. Ditambah lagi, perhatian para elite NU di tingkat atas terhadap pengembangan sektor ekonomi hingga kini tidak bergaung. Padahal, kalau saja mereka mau serius, dengan segala potensi alam dan peluang kerja di pedesaan, bukan tidak mungkin pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan hidup akan teratasi. Ini menjadi tantangan yang seharusnya dan sudah saatnya mendapat perhatian.

Senin, 03 Agustus 2015

Merawat Kedisiplinan


        Islam tidak hanya mengajarkan syariat yang dibawa oleh baginda Rasulullah saw, tetapi juga menanamkan nilai-nilai universal yang sejalan dengan Al Quran dan Hadis, diantaranya spirit kedisiplinan. Disiplin merupakan salah satu pintu meraih kesuksesan. Dalam banyak kisah displin menjadi perilaku sehari-hari para pemimpi yang sukses mewujudkan impiannya. Kepakaran dan ketinggian ilmu seseorang tidaklah berarti jika tidak dibarengi dengan budaya disiplin. Sebaliknya, banyak orang yang tingkat ilmunya biasa-biasa saja tetapi berhasil mencapai kesuksesan luar biasa, berkat praktik disiplin dalam hidupnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disiplin adalah ketaatan atau kepatuhan terhadap peraturan. Ketaatan berarti kesediaan hati secara tulus untuk menepati setiap peraturan yang sudah dibuat dan disepakatibersama. Orang hidup memang bukan untuk peraturan, tetapi setiap orang pasti membutuhkan peraturan untuk memudahkan urusan hidupnya.

Senin, 18 Mei 2015

Menciptakan Taman-Taman Surga

         Alquran melukiskan pertamanan surga sebagai sebuah tempat yang sangat indah. Saking indahnya sampai-sampai dikatakan dalam sebuah hadis bahwa itu merupakan kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, telinga mendengarnya dan tidak pernah terlintas dalam lubuk hati manusia. Hal ini mengindikasikan bahwa surga merupakan puncak daripada kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya.
            Beberapa ayat Alquran hanya menggambarkan bahwa disana terdapat pepohonan dan gedung istana yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Semua pribadi berhasrat untuk menikmatinya dan semua mata merasa tentram melihatnya. Disana telah dihidangkan rizki yang kekal dan berbagai buah-buahan yang menggiurkan, yang mana jika dimakan tidak membosankan. Kelezatan yang dirasakan bukannya semakin berkurang melainkan bertambah dari satu hidangan ke hidangan yang lain.

Minggu, 27 Juli 2014

Memaknai Idul Fitri dan Kemerdekaan RI



الله أكبر × 9، الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله الذي جعل اليوم عيدا من عوائد الإحسان، وفضلنا باستقلال بلادنا إندونيسيا مع تنوع الإمتنان، براءة من أغلال الهوى والأبدان. أشهد أن لا إله إلا الله الواحد المنان، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله الداعي إلى دار الجنان، اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أولي العلم والعرفان، أما بعد
فيا أيها الإخوان! اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Poro sederek jamaah sholat Idul Fitri Hafidzokumullah!
            Keparengo langkung rumiyen kulo wasiyat dateng awak kulo piyambak ugi panjenengan sami supados ningkataken kadar taqwa dateng Allah subhanahu wa taala, kanthi ninda’aken sedoyo perintahipun lan nebihi sedoyo laranganipun. Langkung-langkung taqwa meniko merupakan cita-cita tiyang ingkang nglampahi siyam ramadhan. Allah subhanahu wa ta’ala dawuh:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Selasa, 17 Juni 2014

Selamat Datang Puasa


Puasa yang dalam bahasa arab diterjemahkan dengan kata shiam atau shaum secara bahasa berarti menahan. Adapun secara istilah berarti menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa baik berbentuk syahwat farji (kelamin) atau syahwat bathni (perut), dengan niat tertentu, sepanjang hari mulai dari fajar hingga waktu maghrib, dan pada hari yang diperbolehkan untuk berpuasa. Karenanya, jika ada seorang muslim yang menjalan puasa pada hari yang tidak diperbolehkan, seperti hari raya, hari tasyriq, dan hari yang masih diragukan dengan tanpa ada sebab, maka puasa orang tersebut tidak diterima.

            Puasa telah lama dikenal oleh umat manusia. Namun, bukan berarti telah usang atau ketinggalan zaman. Karena, jika kita melihat pada abad kedua puluh ini masih ada orang yang menunaikannya dengan berbagai motif dan dorongan. Puasa dalam arti ‘mengendalikan dan menahan diri untuk tidak makan dan minum dalam waktu-waktu tertentu’ dilakukan antara lain dengan tujuan memelihara kesehatan atau merampingkan tubuh. Ada juga puasa yang bermotif mogok makan sebagai tanda protes atas perlakuan pihak lain. Ada juga puasa yang dilakukan sebagai tanda solidaritas atas malapetaka yang menimpa teman atau saudara, seperti yang terdapat di beberapa suku India yang hingga saat ini masih berlaku. Semua bertujuan untuk menahan diri. Bahkan kalau kita merujuk pada Sunnah Nabi saw, disana disebutkan bahwa puasa juga dapat meredakan gejolak syahwat.

Kamis, 24 Januari 2013

Meneladani Risalah Rahmatan Lil Alamin


            Peringatan maulid nabi dari tahun ke tahun selalu disambut dengan hingar bingar lantunan sholawat. Di akar rumput nuansa itu malah lebih nyaring lagi. Hal ini tidak lepas dari warisan dan peran para penyebar Islam di bumi pertiwi semisal Wali Songo. Juga mayoritas umat di pedesaan yang kebanyakan pengikut ormas Nahdlatul Ulama’. Siang dan malam ujung corong pengeras suara bersahut-sahutan. Surau dan masjid tak pernah sepi dari bacaan al barzanji, simtut duror, ad diba’i dan lain-lain. Semuanya bercerita tentang kisah dan pribadi agung Nabi Muhammad SAW, sang penyebar rahmat, pemberi syafa’at bagi umat.
            Di sisi yang berbeda, ada pula mereka yang memperdebatkan status hukum Islam tentang penyambutan Maulid Nabi seperti di atas. Ada yang mengharamkan, ada yang membolehkan dan ada pula yang berpendapat bahwa itu tidak disyari’atkan. Mereka yang mengharamkan berpegangan bahwa ritual semisal membaca al barzanji merupakan bid’ah yang mana tidak ada dalil yang memerintahkannya. Maka setiap bid’ah adalah sesat dan diharamkan. Sedangkan mereka yang membolehkan berpendapat bahwa itu merupakan bid’ah hasanah. Maka akan mendapat pahala bagi mereka yang menjalankannya.
            Penulis tidak akan menyentuh konteks perdebatan tersebut. Apapun itu, yang jelas dan gamblang dalam hadis Nabi ialah, ‘Allah akan membalas orang yang bersholawat kepada Nabi dengan sepuluh sholawat dan akan menjadikannya penduduk surga’. Berangkat dari situ, mari kita perbanyak bacaan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana Allah dan para malaikat juga bersholawat kepadanya. Semoga dengan itu kita mendapatkan syafa’at dari beliau dan diakui sebagai umatnya.
            Kiranya ada yang lebih penting dari itu semua. Peringatan maulid Nabi yang bergulir setiap tahun seyogyanya tidak hanya disambut dengan ritual dan bacaan sholawat belaka. Tetapi dibarengi minimal keinginan di sanubari setiap umat untuk meniru akhlak dan tingkah laku baginda Nabi sedikit demi sedikit. Tentu tidak harus sesempurna mungkin. Paling tidak kita ejawentahkan gaya hidup Nabi dalam kehidupan sehari-hari dari mulai hal yang paling sederhana.

Jumat, 11 Januari 2013

Menejemen Problem


            Dalam dinamika hidup sehari-hari, tentu kita tidak akan pernah bisa luput dari yang namanya masalah. Logikanya, semakin bertambah usia kita, semakin banyak dan beragam pula masalah yang mendera. Ketika masalah itu semakin banyak, maka semakin tangguh kita dalam menghadapinya.
            Hidup ibarat berselancar di laut samudera nan luas. Sementara problem atau masalah ibarat ombak. Tergantung kita mampu manaklukkannya atau justru digulung oleh kedahsyatannya? Masalah merupakan keniscayaan yang tak terbantah bagi setiap insan. Tak peduli orang baik atau buruk, beriman atau tidak. Jangan pernah berpikir ketika kita telah sungguh-sungguh beriman dan bertaqwa kepada-Nya serta berbuat baik kepada sesama maka akan dijauhkan dari ujian dan masalah. Allah Swt. telah mewanti-wanti dalam salah satu firman-Nya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut : 2). Kemudian apa tujuan dari itu? “(Dia) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk : 2).
            Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus siap berjuang menghadapi masalah. Karena sebagaimana kata orang bijak, hidup ini masalah, maka orang yang merasa tak punya masalah, patut dicurigai bahwa orang itu bermasalah. Tanpa masalah masa depan tak akan cerah. Tanpa masalah hidup tak akan indah. Hanya orang-orang bijak dan sabar yang mampu mengarunginya. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqoroh : 155).
Orang-orang yang cerdas dan bijak akan menghadapi suatu masalah dengan lapang dada dan penuh penghayatan. Masalah dijadikan sebagai tantangan dan rintangan yang kelak menjadikannya semakin kuat dan tahan banting. Maka lihatlah kehidupan mereka yang indah dan menyenangkan. Karena, masalah dihadapinya dengan jantan dengan mendayagunakan logika akal dan tuntunan agama. Masalah besar mereka sederhanakan, sementara masalah kecil mereka tiadakan.

Selasa, 01 Januari 2013

Sebuah Perayaan Semu


            Dimana-mana tempat wisata dan alun-alun selalu menjadi primadona kala tahun baru menjelang. Semua orang berbondong-bondong meninggalkan aktivitasnya masing-masing. Meletakkan urusan-urusan yang meski mendesak. Mengorbankan tidur malam dan mimpi-mimpi indah yang hendak diraih kemudian hari. Tak tua, tak muda, terlebih remaja. Tak peduli dampak yang menyeruak esok hari. Meluapkan kegembiraan yang entah apa. Merayakan “Tahun Baru” yang gegap gempita, katanya.
            Semua tempat berhias diri. Jauh-jauh hari merancang berbagai arena. Menawarkan bermacam jajakan semewah-mewahnya. Mulai dari pagelaran, pertunjukan, sulap, hingga atraksi. Berlomba-lomba mendatangkan artis dan seniman ibukota. Tak peduli biaya yang dikeluarkan berapa. Yang penting tahun baru semarak dan gegap gempita, katanya.
            Kalau sudah demikian, semua pihak saling mencari keuntungan. Para sponsor bertebaran memberikan kontribusi dan menuntut kompensasi tentunya. Pihak seniman dan artis-artis menaikkan tarif setinggi-tingginya. Seakan tak mau ketinggalan, pedagang asongan ikut berjejal-jejalan, sekedar menawarkan terompet, air minum dan petasan. Sementara para pencuri dan pencopet berkeliaran memanfaatkan kesempatan dalam keramaian. Semua berkelindan hingga esok hari.
            Lalu apa akibatnya? Sudah pasti kemacetan memenuhi jalanan. Sampah-sampah menumpuk berserakan. Tindak pencurian dan pidana merajalela. Suasana gaduh dan tak terkendali. Aktifitas esok hari terbengkalai karena semua orang kelelahan setelah begadang semalaman. Semua orang terlupa dari memikirkan masa depan mereka.

Jumat, 28 Desember 2012

Mendialogkan Dakwah dan Sastra


Islam adalah agama dakwah. Islam harus disebarkan kepada seluruh umat manusia. Para pemeluk Islam digelari Allah SWT sebagai umat pilihan, sebaik-baik umat (khairu ummah), yang mengemban tugas dakwah, yaitu mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran. Oleh karena itu, aktifitas dakwah harus menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim.
Aktifitas dakwah sering kali dipahami oleh kebanyakan khalayak dengan berceramah dari mimbar ke mimbar. Para juru dakwah (muballigh), terutama di pedesaan, ialah mereka yang mengisi pengajian-pengajian dari satu tempat ke tempat yang lain. Dakwah adalah ceramah, begitu sebaliknya. Jika demikian, maka sasaran dan sarana dakwah rasanya terlalu sempit ruang lingkupnya.
Sementara zaman terus berkembang. Informasi menjadi suatu komoditi primer bahkan sumber kekuasaan karena informasi dapat dijadikan alat untuk membentuk pendapat publik (public opinion) yang mempengaruhi dan mengendalikan pikiran, sikap, dan perilaku manusia. Ada pendapat, sumber baru kekuasaan sekarang adalah informasi di tangan banyak orang (the new source of power is information in the hand of many) dan siapa yang menguasai media masa, dialah pengendali atau penguasa dunia.
Pengertian media masa disini jangan diartikan dalam perspektif sempit pada koran, majalah dan televisi belaka. Melainkan segala media yang dapat diakses oleh banyak orang dimanapun, kapanpun dan siapapun. Dan bagian daripada media itu ialah tulisan atau karya tulis. Sebagai sarana komunikasi masa dan alat pembentuk opini publik, para muballigh, aktifis dakwah, dan umat Islam pada umumnya –yang memang terkena kewajiban secara syar’i melakukan dakwah- harus mampu memanfaatkan media tulis atau karya tulis untuk ber-dakwah bil Qalam.
Dewasa ini, kita merasakan masih langkanya para aktifis dakwah bil Qalam. Lebih langka lagi adalah para muballigh yang mampu melakukan dakwah bil lisan sekaligus piawai dakwah bil qalam. Tapi banyak ulama dan cendekiawan hanya “jago pidato” di atas mimbar, namun tidak mampu (tidak mau?) menulis di media massa. Terlebih dalam ranah sastra. Pertanyaannya kemudian, apa istimewanya dakwah bil qalam melalui sastra? Dimana letak titik temu antara keduanya?
Mencari titik temu dakwah dan sastra berarti mendiskusikan sesuatu yang telah nyata dan setiap hari kita baca. Bahkan pertemuan dakwah Islam dan sastra telah ada sejak agama itu didakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal itu tergambarkan dalam Alquran sebagai kitab suci umat Islam yang menggunakan bahasa sastra dan tidak mampu ditiru maupun ditandingi oleh siapapun sebagai tanda kemukjizatannya. Bahkan dengan tegas Allah menantang orang-orang kafir untuk membuat semisalnya, sebagaimana termaktub dalam sebuah ayat yang artinya, “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al Baqarah: 23).
Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kesusastraan. Ruang dialektika yang terdapat dalam dunia kesusastraan, menjadikannya mampu menemukan warna baru dalam rangka menyampaikan pesan suci Tuhan yang disebut dengan dakwah. Dakwah dan sastra telah menjadi sesuatu yang senyawa. Keduanya saling menguatkan satu sama lain. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sastra Islami (dakwah) menjadi bagian genre tersendiri dari sastra.
Dari sisi historis ke-Indonesia-an, selain dengan kebudayaan Islam juga didakwahkan para Wali Songo melalui sastra. Mereka pertama-tama menulis kitab-kitab ceritera. Bukan kitab-kitab fiqih, bukan pula kitab-kitab tasawuf (suluk). Cerita-cerita yang tidak berdasarkan pakem wayang Ramayana atau Mahabarata. Tapi cerita-cerita rakyat, cerita orang-orang kecil, yang berbasis dalam kehidupan orang-orang desa, dengan latar belakang alam pedesaan. Terutama tentang kisah-kisah si jaka yang populis: Jaka Partwa, Jaka Karewet, Jaka Sureng, Jaka Sumantri, Jaka Bodo, Jaka Klinting, dan Jaka Sujalma.
            Dengan strategi-strategi mengkomunikasikan kultur dan bahasa (sastra) ini tercapailah tujuan-tujuan Wali Songo. Yaitu menciptakan masyarakat etis yang berlandaskan karakter berguru kepada ulama dan ngaji kitab, serta pembentukan peradaban kosmopolit. Bahkan ajaran-ajaran mereka mampu mengakar kuat di level gress root selama berabad-abad. Melihat yang demikian, maka sebenarnya kultur pengkomunikasian dakwah lewat sastra sebenarnya telah ada sejak zaman pendahulu-pendahulu kita.
Dewasa ini pun apabila kita melirik ke beberapa pesantren atau pusat-pusat perkembangan agama Islam, maka akan mendengar atau menyaksikan hasil-hasil karya sastra di kalangan pesantren. Bentuk karya sastra tersebut ada berupa nadzam atau nadzaman, drama, puisi, dan syair-syair hafalan mengenai ilmu tertentu.
Seiring dengan bergulirnya waktu tradisi menulis sastra yang demikian ini mengalami perubahan menyesuaikan zaman dan kondisi pembacanya. Menulis memang mempunyai beberapa perbedaan mendasar apabila dibandingkan dengan cara lisan untuk berdakwah. Tulisan merupakan media yang merekam materi penyampaian secara lebih baik karena lazimnya dituang secara lengkap dan detail. Sedangkan media lisan mempunyai keunggulannya sendiri, yakni pembicara merasakan mengalirnya bahan pembicaraan apabila mendapatkan respon yang baik dari pendengarnya. Berbeda dengan proses menulis yang seringnya terkendala karena kebuntuan pemikiran penulisnya dan tanpa adanya interaksi dalam bentuk nyata.
Berdakwah lewat tulisan pun tidak perlu kaku dengan tulisan yang sarat akan nuansa ilmiah. Walaupun memang tulisan dakwah yang bagus adalah tulisan yang berlandaskan pada rujukan yang shahih (valid), tetapi kreativitas dalam menulis juga dapat dilakukan. Sebagai contohnya adalah ulama Sayyid Quthb yang menuliskan tafsir Al Qur’an dengan nuansa yang sarat dengan sastra dan keindahan bahasa di dalamnya. Atau penulis terkenal Habiburrahman el Shirazy yang dapat memberikan citra akan indahnya Islam yang diramu dengan sisi dakwah dan motivasi melalui novel-novel sastranya.
Akan tetapi ada yang mensinyalir kondisi dilematis dalam meramu unsur-unsur dakwah islami dalam sastra. Berdakwah melalui sastra membutuhkan setidaknya idealisme yang jelas serta kekayaan bahasa, agar karya kita mampu menggerakkan seseorang. Karena ciri khas sastra adalah kekayaan bahasa, ungkapan yang luhur, dan menggerakkan perasaan.
Seringkali dijumpai karya sastra yang sangat idealis, akan tetapi kosong akan kekayaan bahasa. Ibarat mendaki gunung, sastra seperti ini adalah pendaki yang membekali dirinya dengan alat navigasi yang komplit, kompas, peta, GPS, dan jelas tujuannya. Tapi sayangnya ia tidak membawa bekal apapun seperti makanan, pakaian hangat, senter, dan tenda. Bagi para penulis yang seperti ini diharapkan untuk mengasah ketrampilan berbahasanya dengan banyak membaca, membandingkan berbagai macam karya sastra, dan mengasah intuisinya.
Namun ada kalanya pula dijumpai karya yang bagus bahasanya, tinggi, bahkan melangit, tapi hingga kata-kata terakhir tidak jelas arah tujuannya. Ibarat mendaki gunung, ia membawa banyak perbekalan tapi sayangnya ia tidak membawa sama sekali alat navigasi, buta akan peta, dan tidak jelas tujuannya. Untuk penulis seperti ini diharapkan untuk kembali mengaji. Kembali untuk mengasah idealismenya. Mengasah kembali pisau analisisnya. Dan ketika berbicara masalah sastra Islam, maka sudah selayaknyalah kita kembali mengkaji Islam secara menyeluruh, kaffah, dan istiqomah.
Namun, realitanya semua itu mampu dijawab oleh sastrawan-sastrawan Islami. Jika membaca novel-novel karangan Habiburrahman El Shirazy misalnya, dia mampu menjaga antara nilai estetika dan idealisme berdakwah. Karena sejatinya cerita-cerita tentang realitas sosial dan sendi-sendi dunia keislaman pun telah menjadi nilai estetika tersendiri. Maka sudah saatnya jika keislaman didakwahkan melalui berbagai wahana, terlebih sastra.
Wallahu a’lam.......

Ciputat, diantara semangat dan  liku lelah pengembaraan merajut asa 29122012.

Rabu, 19 Desember 2012

Anomali Pendidikan

          Semua kita sepakat bahwa pendidikan menjadi hal terpenting bagi kehidupan manusia. Manusia yang terdidik menjadi beradab di depan manusia lain maupun Tuhannya. Karena pendidikan pula seseorang merajut kesuksesan. Pendidikan menjadi cermin kemajuan suatu bangsa. Bila output pendidikannya baik maka masa depan bangsa akan cemerlang dan disegani bangsa lain. Maka jangan heran bila negara-negara maju dewasa ini ialah negara yang sangat menghargai pendidikan dan para ilmuan.
          Sangat tidak diragukan jika Al-Qur’an menyitir sebuah ayat yang menjelaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu semua dan orang-orang yang berilmu pengetahuan. Saking pentingnya  menuntut ilmu, Rasulullah sampai mencanangkan Longlife Education, sebagaimana dalam sabdanya : Carilah ilmu mulai dari turun ayunan sampai ke liang lahad. Dalam sabdanya yang lain bahkan Rasul mewajibkan menuntut ilmu bagi muslim dan muslimah.
          Belakangan muncul fenomena-fenomena yang cukup menguras energi bangsa ini. Rasanya tak ada habisnya setiap hari kita disuguhi dengan berita-berita kegaduhan bangsa kita indonesia yang tak kunjung reda. Dan yang paling menjadi momok memilukan dari dulu sampai sekarang ialah kasus korupsi yang tak ada matinya. Diberantas satu justru tumbuh seribu. Celakanya lagi perbuatan hina ini dilakukan oleh para pemangku kepentingan, sebut saja DPR dan para pejabat negara. Bukankah mereka orang-orang pintar, yang menghabiskan masa mudanya di bangku pendidikan? Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita sehingga outputnya adalah orang-orang yang seolah lebih buruk dari orang yang tidak terdidik sekalipun?
          Disadari atau tidak, sebagian institusi pendidikan kita mengajarkan pendidikan yang bermental korupsi. Meskipun tidak secara langsung diajarkan dalam forum belajar mengajar, tetapi kenyataan itu ada dalam sistem. Semisal dalam hal rekrutmen pelajar. Selain pintar, banyak sekolah-sekolah favorit yang mengharuskan calon anak didiknya kaya. Karena, hanya mereka yang berani membayar biaya tinggi yang akan diterima. Sekalipun biaya itu untuk perkembangan institusi, akan tetapi secara tidak sadar anak didiknya diajari praktik suap. Keadaan ini pun juga berlaku di perguruan tinggi.
           Kekacauan dunia pendidikan yang lain ialah adanya disorientasi pendidikan. Belajar tak lagi bertujuan menuntut ilmu dan menghilangkan kebodohan, melainkan untuk mengais uang. Maka hal yang demikian ini sejatinya justru menghilangkan spirit belajar itu sendiri. Yang ada dalam pikiran mereka hanya uang dan uang.
          Selain problem-problem di atas, masih banyak lagi anomali-anomali pendidikan yang intinya berujung pada mengajarkan ketidakjujuran. Seperti memberikan bocoran jawaban pada siswa saat UN, hanya karena kawathir tidak lulus dan sekolahnya tercoreng di mata umum. Sementara di sisi lain anak-anak kita tiap hari di suguhi tontonan korupsi dari para elite pejabat tanpa diimbangi pendidikan korupsi dan kejujuran yang memadai. Dan masih banyak lagi kenyataan-kenyataan lain yang mencederai akal sehat kita.
          Tentunya, semua itu jangan sampai berlarut-larut dan berkelanjutan tanpa ada perubahan. Semua pihak, pejabat pendidikan, guru dan orang tua harus bersinergi. Paling tidak ada beberapa sudut pandang, sistem juga kebijakan yang harus dibenahi, diantaranya :
Pertama, character building. Hal mendasar yang harus ditanamkan pada anak didik pertama kali ialah pembangunan karakter. Sejak dini seorang anak hendaknya disuguhi pembelajaran akhlak-akhlak terpuji, terutama akhlak kejujuran. Baik dalam tuntunan yaitu pada proses belajar mengajar di kelas, juga tontonan dengan memberi teladan melalui perilaku. Seorang anak ibaratkan tanaman yang baru tumbuh. Setiap hari harus disiram dengan nilai-nilai terpuji agar mengakar kuat. Bilamana besar nanti terhembus hingar bingar angin kencang kehidupan yang keras, ia akan senantiasa tegak berdiri tak tergoyahkan.
Kedua, kembali ke orientasi pendidikan. Ketika belajar berorientasi untuk menuntut ilmu, maka anak didik kita akan menikmati proses pendidikan yang indah. Setiap saat selalu ada suntikan spirit untuk menyingkap samudera ilmu yang teramat luas. Coba bandingkan jika belajar berorientasi untuk memperoleh pekerjaan atau uang. Maka yang terjadi ialah belajar hanya menjadi kedok dan alat. Ia tidak akan menikmati proses yang ada dan hanya berkepentingan bagaimana caranya agar lulus, memperoleh sarjana dan bekerja. Pada akhirnya yang didapatkan hanyalah penyesalan. Rasanya sudah tegas maqolah sahabat yang berbunyi ilmu lebih utama daripada harta. Dengan ilmu harta akan kita raih, tapi dengan harta belum tentu ilmu tergapai. Maka seyogyanya para insan yang berilmu tak perlu khawatir dengan masalah ekonomi, karena Allah telah menjanjikan derajat yang tinggi bagi mereka di dunia maupun akhirat.
Ketiga, pendidikan gratis. Gembar-gembor bahwa APBN negara dialokasikan 20% untuk dunia pendidikan nyatanya belum menjawab semua masalah. Masih banyak masyarakat miskin yang belum tersentuh bangku pendidikan karena mahalnya biaya. Terutama mereka yang nun jauh di pelosok desa. Keadaan mereka yang telah payah oleh beban ekonomi diperparah dengan diperbodohkannya anak-anak mereka dengan tidak mampu meraih kesempatan belajar. Pada akhirnya yang miskin makin miskin oleh karena anak cucunya tak mampu menaikkan derajatnya. Maka perlu digalakkan pendidikan gratis yang merata mulai tingkat terendah sampai tingkat tertinggi sebagaimana di negara-negara maju. Dengan demikian semua rakyat akan mendapatkan hak yang sama untuk merasakan kesempatan di bangku pendidikan.
Keempat, regenerasi pengajar. Ada baiknya jika setiap institusi memperhatikan hal regenerasi guru dengan mengharuskan hanya alumninya yang bisa mengajukan diri sebagai tenaga pengajar. Karena berdasarkan realita, guru alumni lebih memiliki spirit yang kuat untuk memajukan institusi. Mereka akan merasa bangga dan dihargai karena bisa mengabdi di institusi yang mana ia belajar dulu, sehingga akan memacu semangat untuk memberikan yang terbaik.
          Dan ternyata, itu semua telah ada sejak dulu dalam sistem pendidikan islam. Kita bisa berkaca pada sistem dan arah pembelajaran yang ada pada pondok pesantren sekarang ini, yang mengutamakan akhlak, pendidikan karakter, ilmu agama yang tentunya tidak kalah juga ilmu umum. Lebih jauh lagi pondok pesantren telah mempraktikkan kemandirian hidup dan bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat. Bahkan sistem dan kebijakan pun dikendalikan oleh para santri. Pengasuh dan para ustadz hanya membimbing, memantau dan mengarahkan. Sistem keuangan pun sangat transparan. Dengan demikian tidak salah jika pondok pesantren dikatakan sebagai laboratorium kehidupan. Sebab para santri digembleng dan dididik dengan ilmu dan amal agar cakap dan siap sebelum terjun di masyarakat.
          Hendaknya ilmu diimbangi dengan iman. Ilmu ibarat sebilah pisau yang bila di tangan penjahat tanpa iman maka akan menghunus orang dan terjadilah pembunuhan. Namun bila ditangan ulama atau orang yang beriman dan berakhlak maka akan menyembelih hewan yang menjadi halal karena disertai bismillah dan etika menyembelih. Ilmu akan liar tanpa iman. Iman tanpa ilmu bak buih di tengah lautan.
          Sejatinya, belajar tidaklah harus di institusi pendidikan. Karena, setiap jengkal kaki, sejauh mata memandang dan telinga mendengar, disitulah ladang untuk belajar. Yang terpenting, setiap kita ada kemauan dan bersungguh-sungguh untuk menggapainya. Samudera ilmu tidak akan pernah habis kita teguk. Camkan baik-baik bahwa di atas langit masih ada langit. Sepintar dan sehebat apapun kita tidaklah seberapa. Belajarlah pada padi yang semakin berisi semakin merunduk. Belajarlah pada sabda Nabi tentang longlife education, maka semakin berilmu kita semakin merasa bodoh. Belajarlah pada pohon-pohon yang berbuah, maka ilmu kita pun berbuah dengan amal. Niscaya masa depan agama, negara, nusa dan bangsa akan cemerlang. Semoga…

Ciputat, 19 Desember 2012